Sepercik rindu seruas hati
Selarik sendu segaris sepi
Selirih desau sekilas nyeri
Seutuh dirimu dalam singkap asmara
Selembar mimpi senyari bumi
Seutas harap sesunyi mimpi
Seperti khayal sendiri bersemi
Segenap cintaku menjelma rindu dendam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
HARI RAYA SELAYANG PANDANG
Sumpah serapah tersandera macet Pendingin mobil tiada kuasa Kemudi kian membebani Hanya matahari siang yang sumringah Dari berdendang hingga...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi yang indah! "SEPERCIK SELEMBAR" menghadirkan permainan kata yang penuh irama, di mana setiap bait mencerminkan perasaan rindu dan harapan yang terjalin erat dengan nuansa kesunyian. Ada keseimbangan antara harapan yang tenang dan kerinduan yang mendalam, dengan penggunaan kata-kata seperti "sepercik", "selembar", dan "segenap", yang memberi kesan halus tapi kuat. Tema cinta yang tersirat dalam asmara ini begitu menyentuh.
BalasHapusApakah ada latar khusus yang menginspirasimu menulis puisi ini?