tegur sapa,
apalagi berpelukan
Mereka nyaman rebah di jari masing-masing
Bermalas-malas memanjangkan diri,
sebagaimana cakar
Di selanya daki. Terselip.
Namun kulit bagian mana yang tak pernah dikukurnya? Sebutkan!
Sumpah serapah tersandera macet Pendingin mobil tiada kuasa Kemudi kian membebani Hanya matahari siang yang sumringah Dari berdendang hingga...
Puisi "KOMPAK" ini menggambarkan hubungan antara kuku dan kulit dengan cara yang puitis dan imajinatif. Ada rasa keakraban sekaligus ketidakhadiran interaksi langsung yang diekspresikan melalui citra kuku yang "jarang bersilaturahim" dengan kulit, namun tetap memengaruhi satu sama lain. Kuku mungkin tampak terpisah dan malas, tetapi pada akhirnya, setiap bagian kulit telah disentuh olehnya, menyoroti keterkaitan yang tidak terelakkan. Ada sentuhan humor sekaligus refleksi mendalam tentang interaksi yang tampak sederhana namun penuh makna.
BalasHapusApakah puisi ini terinspirasi dari pengamatan atau khayalan?