Rabu, 08 Agustus 2018

HIKAYAT SANG UTUSAN

Malam padang pasir purba
Bintang berkedip menunjuk arah
Batas langit berkelok di ujung horison bukit tandus
Kafilah kecil unta berjalan beriring
Meninggalkan jejak panjang
Kawanan kambing bergerombol mengikuti di belakang
Bertingkah dan mengembik

Di depan seorang lelaki pahatan pualam
Memimpin langkah perlahan
Bertumpu pada tongkatnya kayu
Di belakangnya wanita dan anak-anak
Berjalan dalam bisu dan sepi yang terasing
Suara langkah beradu pasir padang tak bertuan
Berirama sesuai pijak kaki

Lapar dan lelah terlukis nyata
Di garis wajah murung terkuras tenaga
Angin dan pasir mengepung kering
Sejauh mata memandang
Membentang hamparan luas kekosongan
dan senyap yang mencekam
Meninggalkan perih mata dan pecah bibir
Serta luka mengiris telapak nestapa
Lelaki pahatan pualam mengangkat tangan
Rombongan berhenti di tengah hamparan pasir halus
Sambil memegang tongkat
Disapukan pandang pada orang-orang
yang bergantung dan berharap hidup padanya

"Akan ku datangi medan di depan
Tampak ada sinar berkedip
menyimpan kabar dan hangat
Istirahatlah semua disini
Ku selidiki unggun menyala
Semoga mendapat api
Dan tempat berlindung dari kelam malam
Setidaknya mendapati kabar negeri yang di lewati"

Perlahan ia melangkahkan kaki
Berbekal tongkat gembala
Penjaga dari liar binatang malam
Setiba di kaki bukit terlihat sebatang pohon
Kering meranggas dan besar terselubung api
Berkobar tanpa membakar cabang ranting
Lidah api melambai berwarna suci
Menebar terang indah sekitar
Penuh nuansa magis yang surgawi

Tiba-tiba langit terbelah menganga
Tampak 'Arsy berkilau wibawa
Terdengar suara murni indah syahdu buluh perindu
Dari arah kanan bukit
Suara yang tak pernah terlintas dalam fana
Iapun kaget dan terjerambab  di pasir
Matanya nyalang mengikuti debar
Menatap kobar api rahasia langit
Kakinya getar dan hatinya ciut karena takut

"Hai lelaki wajah purnama
Lepaskan alas kakimu
Sujudlah dengan meletakkan kepala
Juga hatimu
Dan dengarlah firmanKu:
Akulah Tuhanmu
Rabb Penguasa langit dan bumi
Raja Diraja dari raja-raja.
Aku Allah"

"Kau menghadap sembah padaKu
Di bukit suci yang terberkati
Kau Ku tahbiskan sebagai nabi dan utusanKu"

"Utusan dan nabi bagi kaummu
Anak turun duabelas suku
Ajarkanlah tauhid, shalat dan shaum
Hukum Ilahi dan waris"

"Utusan untuk memberi peringatan mengerikan
Bagi kedegilan maharaja angkara yang melampaui batas
Menjadi tuhan bangsanya dan menzinahi adiknya"

"Ku beri bekalmu dua mukjizat
Tanda kau khalifahKu di dunia
Tongkat menjadi ular dan
telapak bersinar cerlang cemerlang"

Dengan takut lelaki berwajah purnama tengadah
Memandang api suci putih silau mata
Diangkat kedua tangannya tinggi
Hingga terlihat ketiak di balik lengan baju
Dengan prihatin perlahan memohon

"Ya Allah Ya Rabb
Yang Maha Membolakbalikkan Hati
Yang Kuasa Atas Segala Sesuatu
Hamba mohon
Lapangkanlah dadaku
Mudahkanlah semua urusanku
Lancarkanlah lisanku"

"Karena kelat bicara
Hamba mohon seorang pembantu dan nabi
Fasih hujahnya
Cerdas akalnya
Juru pikir dan ahli strategi.
Saudaraku satu liang rahim
Untuk melawan kelaliman raja durhaka dan bala tentaranya
Menjadi rekan dalam membimbing bangsa
Menyusun langkah merebut kemerdekaan
Mendampingi bangsa tertindas ini mencapai tanah perjanjian"

Segenap penduduk langit tujuh tingkat berkumpul dalam ria
Menyambut utusan pembawa kabar sukacita dan dukacita
Semua bertasbih dalam khusyu
Memuji dan mengagungkan Sang Maha Satu
Menjadi saksi pertarungan Ahura Mazda dan Ahriman
Terang dan gelap
Yin dan Yang
Di bumi manusia

Selasa, 07 Agustus 2018

CAHAYA

Pada mulanya adalah putih
Tanpa lengkung hanya larik
Melesat dari ketiadaan nisbi
Menembus gravitasi

Menabrak titik air
Pecah warna pelangi
Seperti cabikan permadani
Sampiran selendang bidadari

Melesat dan bersatu menjadi zarah
Arungi ruang hampa
Bersama materi semesta
Lenyap terserap lubang hitam

Cahaya padam
Melebur legam
Semua bermutasi
Menjadi anti materi

Senin, 06 Agustus 2018

BENCANA DAN POLITIK

Agustus dan bencana
Ramai riuh polemik
Dari dosa berakhir murka
Hingga kutuk keji dibakar benci

Kabar burung mengikis fakta
Tahun memanas gempa terkait
Politik mengeras harga melonjak
Menaksir musuh menimbang koalisi

Saling menunggangi saling khianat
Uang pelumas laksana siluman
Jelata komoditas layaknya terdakwa
Dingin Agustus tak merubah kontestasi

Bumi bergetar iklim bergeser
Kayu bakar fitnah dan dengki
Elit menumpang popularitas
Korban tetap menjalani hari

Minggu, 05 Agustus 2018

DINNER

Berhadapan
Menekuni gadget
Menanti pesanan tiba
Mulut terkatup
Diam

Makanan tersaji lengkap
Siapkan gadget
Selfie
Kirim sosmed
Menanti jempol teman

Jumat, 03 Agustus 2018

ANOMALI 1

Matahari terik angin dingin
Kemarau kering es berderai

Bulan darah malam bintang
Debu terbang hujan hilang

Pohon kusam langit cerah
Rumput layu tanah merah

Sawah retak semak berbiak
Sumur kering dalam menghujam

Tanah lapang berselimut tikar
Tangan tengadah doa merebak

Kamis, 02 Agustus 2018

ANGIN KEMARAU

Angin Barat angin sepoi awan hitam awan hujan
Datanglah dengan segala tunduk mengawal Indra
Angin Timur angin lesus awan putih awan kering
Pergilah dengan segala paksa patuhi Bayu

Angin berlomba lesakkan debu di perih mata kemarau
Angin berhembus di terik mentari
Angin mengarak awan putih hindari langit biru
Angin menyemai kering di punggung renta musim ke tiga
Angin dan daun menari berdesir di siang yang letih
Angin berwarna lembayung melukis wajah bumi
Angin kembara mencari bibit kehidupan di pelosok sejarah
Angin menangkap gemerisik doa dedaunan
Angin meliuk naik dan menjauh
Angin datang dan pergi ulangi siklus hidup mati

TELEVISI

Iklan memenuhi ruang
Ku tatap layar kaca
Ku tekan tombol remote
Iklan berganti adegan
Iklan bertukar produk
Kunanti sinetron favorit
Ku usik bosan jam tayang
Iklan bernyanyi
Iklan dusta
Ku tegakkan kepala menolak pegal
Ku sandarkan tubuh di kursi rotan
Iklan habis
Logo berganti saluran televisi
Film mulai digadang adegan
Riang senang pandang berbinar

Gadis manis bawa berita
Lidahnya lancar mengecap dunia
Mengupas derita di lain benua
Mengulas isu bawa fakta
Moderator bagi undangan berseteru
Kritik tajam keterpihakan
Kalimat tendensius
Ramai berbalas kata. Pedas
Iklan jeda bagi debat
Iklan jawab rating

Prime time saat mendulang emas
Reality show berjuta bintang
Tanpa kecerdasan tanpa keahlian
Konsep kedodoran bahasa kasar
Tak ada pesan bahkan moral
Segala cara dihalalkan demi rating
Adegan berulang dan berulang miskin ide
Bercakap dan serapah campur baur
Iklan durasi makin panjang
Iklan bayar lebih mahal

Pindah channel acara yang lain
Lomba nyanyi sejuta kritik
Juri bak dewa berkuasa absolut
Kontestan adalah obyek cela
Menyanyi hanya selingan
Host menyita waktu dengan canda dan omong kosong
Lempar kata tukar ledek
Iklan berderet
Iklan menghabiskan slot

Capai dan kantuk
Bombardir iklan acara tak mutu
Ku tekan tombol off di remote
Televisiku tewas aku lelap

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...