Cintaku mentari pagi
Bersinar dengan gairah muda
Menyapa riang tiap syahwat yang menggoda
Menari lincah di sekitar warna warni bunga
Menghirup dosa eros
Menggiring hati luruh dalam duka asmara
Menggores luka rindu di senyum mengadu
Tiap langkah tetaplah janji pertemuan
Memadu kasih di antara ruang dan waktu
Tiada kekang tanpa lekang. Bebas.
Panas terik mengikis semangat
Hari-hari berlalu sisakan jenuh
Siang hanyalah persimpangan emosi
Kadang bahasa tubuh acap mengganti
Berpapasan di tiap ruang tanpa toleh wajah
Ketika malam menaikkan tirainya
Dan bintang memaku gelap
Anak-anak telah merenda mimpinya
Birahi menjadi yang ketiga di antara kita
Belaian mengusir segala rutinitas
Pagutan berbagi panas nafsu
Keringat kita menyatu dalam setarikan nafas
Dan kita mendaki bersama
Mencapai persatuan lingga dan yoni
Senja ketika mentari pamerkan sinar terindahnya
Berwarna merak dan hias percaya diri
Dari teduh beranda hati
Bergandengan kita melepas cinta
Berbekal doa dan sayang
Memandang langkah anak mengejar cita
Terbang satu demi satu menjemput takdirnya
Hingga tertinggal hati kita berdua
Menjaga sarang cinta yang mulai lapuk
Dan menambalnya dengan benang kasih
Hingga maut meregang
Sabtu, 13 Oktober 2018
Jumat, 12 Oktober 2018
LANGKAH PERGI
Kau jejak langkah jauhi amarah
Tinggalkan kosong terpana sendiri
Matahari belum lagi terbenam
Helai sinarnya masih kasat mata
Hadirmu masih tersisa di tiap ingatan
Serupa kesadaran terlambat mengendap
Teriakan duka masih berdenging di telinga
Isyarat hati tak rela tinggalkan retakan luka
Sebenarnya apalah yang kita kukuhi
Hanya ucap kasar bercampur caci
Hingga sunyi yang sesakkan batin
Pergimu menyunggi duka dan kesal
Sisakan ruang waktu yang diam
Juga tatap letih sebab sesal
Tinggalkan kosong terpana sendiri
Matahari belum lagi terbenam
Helai sinarnya masih kasat mata
Hadirmu masih tersisa di tiap ingatan
Serupa kesadaran terlambat mengendap
Teriakan duka masih berdenging di telinga
Isyarat hati tak rela tinggalkan retakan luka
Sebenarnya apalah yang kita kukuhi
Hanya ucap kasar bercampur caci
Hingga sunyi yang sesakkan batin
Pergimu menyunggi duka dan kesal
Sisakan ruang waktu yang diam
Juga tatap letih sebab sesal
Rabu, 10 Oktober 2018
GENDONG
Anak kecil bermain di pangkuan
Celotehnya renyah di tiap sentuh
Diejanya bunyi yang sembunyi makna
Sambil menatap haus kasih ibu
Tangannya mungil meraup pentil di dada montok
Mulut menghisap susu kehidupan
Tegukannya rakus kasih sayang
Dan bunda mendekap dengan cinta
Ketika mata telah mengajuk
Bening menanti jawab rindu
Diletakkannya kantuk di pelupuk
Dan mantra mimpi disenandungkan
Celotehnya renyah di tiap sentuh
Diejanya bunyi yang sembunyi makna
Sambil menatap haus kasih ibu
Tangannya mungil meraup pentil di dada montok
Mulut menghisap susu kehidupan
Tegukannya rakus kasih sayang
Dan bunda mendekap dengan cinta
Ketika mata telah mengajuk
Bening menanti jawab rindu
Diletakkannya kantuk di pelupuk
Dan mantra mimpi disenandungkan
Selasa, 09 Oktober 2018
SEPI
Wajah lesi serupa topeng
Terasing di keramaian
Membangun dinding aku
Menakar jarak dengan bisu
Kadang basa basi jadi sapa
Hubungkan hati dengan sekitar
Setelah adab dijunjung sementara
Jiwa kembali sepi terlantar
Kilau mata coba ramah pada dunia
Tergagap menjalin batin dengan kata
Senyum kadang ingin bangun hubungan
Namun hanya seringai terlukis di wajah
Kita melangkah mengarah kerumunan
Mencoba runtuhkan dinding dan sekat
Ketika bersua lirikan ragu canggung
Likat pandang terdiam tergugu
Sendiri adalah teman sepi
Sebagai pasangan abadi kenyamanan
Sedang langkah tinggalkan jejak samar
Dan diri melebur dalam kesunyian
Terasing di keramaian
Membangun dinding aku
Menakar jarak dengan bisu
Kadang basa basi jadi sapa
Hubungkan hati dengan sekitar
Setelah adab dijunjung sementara
Jiwa kembali sepi terlantar
Kilau mata coba ramah pada dunia
Tergagap menjalin batin dengan kata
Senyum kadang ingin bangun hubungan
Namun hanya seringai terlukis di wajah
Kita melangkah mengarah kerumunan
Mencoba runtuhkan dinding dan sekat
Ketika bersua lirikan ragu canggung
Likat pandang terdiam tergugu
Sendiri adalah teman sepi
Sebagai pasangan abadi kenyamanan
Sedang langkah tinggalkan jejak samar
Dan diri melebur dalam kesunyian
Sabtu, 06 Oktober 2018
BUMIKU
Bumiku dirusak kesombongan
Mata air hitam polusi
Petak konsesi hutan
Tambang yang dicuri
Bumiku dilumpuhkan beton
Langit menjadi penjara
Air menjadi bencana
Udara menjadi durjana
Bumiku merusak dirinya
Alirkan air mata selaksa duka
Tangis pilu luluh lantakkan harta
Peringatan dari bumi yang luka
Bumiku bumimu bumi kita
Bumi pemilik hak hidup
Bumi yang selalu memberi
Bumi dimana kita kembali
Mata air hitam polusi
Petak konsesi hutan
Tambang yang dicuri
Bumiku dilumpuhkan beton
Langit menjadi penjara
Air menjadi bencana
Udara menjadi durjana
Bumiku merusak dirinya
Alirkan air mata selaksa duka
Tangis pilu luluh lantakkan harta
Peringatan dari bumi yang luka
Bumiku bumimu bumi kita
Bumi pemilik hak hidup
Bumi yang selalu memberi
Bumi dimana kita kembali
Kamis, 04 Oktober 2018
ISTIRAHAT
Di rest area
Segala tegang meregang sejenak
Tanggalkan letih usik kantuk
Duduk menghadap secangkir kopi
Aroma panas bercampur pahit
Dorong semangat legakan hati
Bersenda berhadapan hilang bosan
Diselingi cakap ringan kunyah kudapan
Waktu nyaris condong ke barat
Lelah telah tuntas
Langkah pacu semangat
Lanjutkan sisa perjalanan
Segala tegang meregang sejenak
Tanggalkan letih usik kantuk
Duduk menghadap secangkir kopi
Aroma panas bercampur pahit
Dorong semangat legakan hati
Bersenda berhadapan hilang bosan
Diselingi cakap ringan kunyah kudapan
Waktu nyaris condong ke barat
Lelah telah tuntas
Langkah pacu semangat
Lanjutkan sisa perjalanan
Senin, 01 Oktober 2018
MATA
Kepada mata
Muara dosa terbilang
Saksi bahagia asmara
Tetes air mata kecewa
Ketika hati coba pahami makna
Pandang catat tanda tersirat
Seperti rubah terkam nasib
Mata nyalang enggan berkedip
Kepada mata
Binarmu menghujam tajam
Selidik kata bermakna mantera
Bayangan sunyi jiwa
Sekejap sinarmu kosong
Tiada percik gairah
Berkedip dan terasing
Coba eja ulang bisik
Kepada mata
Penjaga api birahi
Ku titip segala hilap
Sebagai tatap dahaga
Muara dosa terbilang
Saksi bahagia asmara
Tetes air mata kecewa
Ketika hati coba pahami makna
Pandang catat tanda tersirat
Seperti rubah terkam nasib
Mata nyalang enggan berkedip
Kepada mata
Binarmu menghujam tajam
Selidik kata bermakna mantera
Bayangan sunyi jiwa
Sekejap sinarmu kosong
Tiada percik gairah
Berkedip dan terasing
Coba eja ulang bisik
Kepada mata
Penjaga api birahi
Ku titip segala hilap
Sebagai tatap dahaga
Langganan:
Postingan (Atom)
LELAKI YANG MENGGADANG MALAM
Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...