Minggu, 25 November 2018

BELAJAR TERBANG

Helai pengetahuan tumbuh
Memenuhi kesadaran inti
Berwarna perak kemilau
Terpapar matahari pagi

Pandang tajam menyapu
Kaki menjejak bumi
Sayap mengepak ilmu
Melepas ragu gravitasi

Langit tanya berpola biru
Diluasan gigih mencari
Dengan jarak ingin tahu
Perlahan merenggut informasi

Terkadang memintal waktu
Mundur untuk mencoba berbagi
Ada saat diam termangu
Sejenak meluruskan hati

Ketika otot hilang kelu
Terbang akal menembus langit
Segala ragu tersapu tuju
Hingga menyentuh senja hari

Rabu, 07 November 2018

MATAMU PERLAHAN MEMERAH

Malam bintang kembar
Angin masih terasa hangat kemarau
Wajahmu jatuh menghadap duka
Dengan diam yang menghujat
Sinar matamu mendesak
Menanti ucap yang tercekat
Sementara semua bayang
Padati ruang kenang
Melesat cepat
Serupa kilas balik
Seperti labirin cinta kita

Segenap kata yang telahir
Sebagai pelengkap rindu terukir
Seperti langkah bidak tertatih
Perlahan mengepung cinta teralih

Malam kian hitam
Kelamnya memasung bintang
Beranda lengang hilang riang
Bibir kita terkatup berjuta kira
Mata menatap asing
Sedang hatipun berpaling
Peluh perlahan mengalir
Menahan sesak panas
Menggenangi kecewa
Birahi yang dulu tujuan
Terasa usang berubah nasib

Matamu perlahan memerah
Mengembang air mata luka menganga
Dan sedu sedan lemah
Tanda mata perpisahan

Selasa, 06 November 2018

BICARA WAJAH

(Sepotong wajah selintas resah
Sekerat kisah sepintas desah)

Sejarah dibentuk oleh genangan darah
Menyimpan sakit pada seulas merah
Lukanya menjadi gurat nestapa
Tangisnya suara putus asa
Setiap kerut wajah durjana
Tersenyum keji pada rahasia
Tatap tetap mencari tumbal raga
Sebagai hias sebatas bayang amarah

(Seraut wajah serabut duka
Sewarna tanah sekilas muka)

Waktu menulis takdir dengan seksama
Mantra kutuk ucap serapah
Mulut terkatup baris pagar kata
Pikiran diam sembunyi dalam gundah
Mata menjadi pintu angkara
Sinarnya menyapu tiap terbit tanya
Jiwa yang terpendam kelam maya
Tercetak jelas di raut menua

(Sesimpul wajah segenap usia
Setajam bilah seulas jumawa)

Senin, 05 November 2018

KERAH BIRU

Matahari timur merambah acak
Pepohonan melepas bayang
Ada kicau burung kutilang
Ada derum mesin mengerang
Sekelumit sinar menerobos
Lewat sobekan lapuk tirai
Menarik mimpiku hingga terjerembab
Dan menggugah mataku mengantuk
Lewat sentuhan jemari cahaya

Ku hempas kantuk dengan air
Ku tepis malas aroma sabun

Di meja berkaki tiga
Secangkir kopi jagung melepas asap
Wanginya memadati kamar
Dan sebatang rokok kretek sisa semalam

Aku kenakan seragam pabrik
Menatap kaca mematut kerut
Menggaris rambut
Lalu duduk menghadap kopi jagung dan rokok kretek

Sepatu kets asli palsu, sudah
Gadget cina angsuran, sudah
Jaket lokal kulit imitasi, sudah
Motor kredit, dikeluarkan perlahan
Di start dan mendengking lembut

Gelombang menyemut carut marut
Dengan warna dan gerak seragam
Tinggalkan gubuk buruk bertumpuk

Berjalan bersama ribuan wajah
Masuki gerbang serupa mulut menganga
Menjual tenaga dan waktu
Diayak sistem dan mesin
Untuk mendapatkan UMR

Minggu, 04 November 2018

KAKIKU TERANTUK

Kakiku terantuk daun pintu
Sakitnya melesat cepat ke otak
Spontan mulutku teriak: "Bangsat!"

Engsel pintu berderit
Terkekeh di atas deritaku
Pintu bergoyang menari

Sakit perlahan berdenyut
Ada luka menitik merah
Kulit ari terkelupas

Tertatih aku menuju lemari
Sebotol obat luka kurogoh
Kuteteskan pada luka. Namun kosong

Kucoba tuang ke telapak
Tak ada cair mengalir
Kubanting tutup dan membatin: "Bangsat!"

Sabtu, 03 November 2018

AKU TERMANGU

Garis wajah lugas tertatah sebab panas dan angin
Tegas warisi sudra pangku derajat brahman
Kulit tembaga tua warna tanah tumpah
Mengecap selera pawon simbok di lembur

Busana modis berbanding lurus bangku pendidikan
Duduk elegan berhak tinggi komunitas eksklusif
Jelata menaiki langit berbekal bimbang dan canggung
Satu kaki memijak ambisi kaki lain terpincang

Tahbiskan cita diri sebagai warganegara dunia
Batas tiada halang untuk berbaur gaul
Jarak merapat serupa pernikahan antar ras
Semesta alit dan jagat wadag berpadu satu

Negara beragama dunia sekte teknologi
Budaya berbasis cepat saji dan industri
Koneksi terhubung oleh serat dan cahaya
Sekat hanya norma yang sering kali kalah

Komunikasi hanya berbatas kuota dan harga
Tegur sapa membentuk tingkat kelas sosial
Ketika bunda memanggil mengirim pesan rindu
Lidah terbata mengeja cinta dengan bahasa ibu

Kamis, 01 November 2018

MIMPI SUREALIS

Jalan menanjak melandai menuju ufuk
Matahari tertahan di ceruk membelah biru
Seumpama rumput menguning
Bebatuan tersapu angin puting

Jalan mulai bergelombang
Onak tersembul di tiap tikung
Di depan jembatan berderit
Bergoyang bertelekan tanaman rambat

Sungai tak hendak beriak
Berwarna kesumba dan diam
Selintas ikan berenang melenggok
Seringai gigi dan tajam sirip

Jejak langkah di rumah kaca
Bintang berkedip kunang-kunang
Serumpun kemuning menatap langit
Kelopaknya sebagai pigura. Asing

Luasan cakrawala nuansa telur asin
Setangkup awan digiring sekawan punai
Gunungan menancapkan kaki dalam-dalam
Aku dan pelangi sendiri berbagi sepi

Nyamuk terperangkap hilang dengung
Memijah di hamparan nuansa kerontang
Aku terpana bentuk abstrak di tembok mimpi
Seolah semua merajam kesadaran

Tiba-tiba,
mataku nyalang
keringat mengalir
langit kamar tertindih gelap

Di sisiku, istri tertidur
Memeluk mimpi
Mendengkur halus
Damai

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...