Helai pengetahuan tumbuh
Memenuhi kesadaran inti
Berwarna perak kemilau
Terpapar matahari pagi
Pandang tajam menyapu
Kaki menjejak bumi
Sayap mengepak ilmu
Melepas ragu gravitasi
Langit tanya berpola biru
Diluasan gigih mencari
Dengan jarak ingin tahu
Perlahan merenggut informasi
Terkadang memintal waktu
Mundur untuk mencoba berbagi
Ada saat diam termangu
Sejenak meluruskan hati
Ketika otot hilang kelu
Terbang akal menembus langit
Segala ragu tersapu tuju
Hingga menyentuh senja hari
Minggu, 25 November 2018
Rabu, 07 November 2018
MATAMU PERLAHAN MEMERAH
Malam bintang kembar
Angin masih terasa hangat kemarau
Wajahmu jatuh menghadap duka
Dengan diam yang menghujat
Sinar matamu mendesak
Menanti ucap yang tercekat
Sementara semua bayang
Padati ruang kenang
Melesat cepat
Serupa kilas balik
Seperti labirin cinta kita
Segenap kata yang telahir
Sebagai pelengkap rindu terukir
Seperti langkah bidak tertatih
Perlahan mengepung cinta teralih
Malam kian hitam
Kelamnya memasung bintang
Beranda lengang hilang riang
Bibir kita terkatup berjuta kira
Mata menatap asing
Sedang hatipun berpaling
Peluh perlahan mengalir
Menahan sesak panas
Menggenangi kecewa
Birahi yang dulu tujuan
Terasa usang berubah nasib
Matamu perlahan memerah
Mengembang air mata luka menganga
Dan sedu sedan lemah
Tanda mata perpisahan
Angin masih terasa hangat kemarau
Wajahmu jatuh menghadap duka
Dengan diam yang menghujat
Sinar matamu mendesak
Menanti ucap yang tercekat
Sementara semua bayang
Padati ruang kenang
Melesat cepat
Serupa kilas balik
Seperti labirin cinta kita
Segenap kata yang telahir
Sebagai pelengkap rindu terukir
Seperti langkah bidak tertatih
Perlahan mengepung cinta teralih
Malam kian hitam
Kelamnya memasung bintang
Beranda lengang hilang riang
Bibir kita terkatup berjuta kira
Mata menatap asing
Sedang hatipun berpaling
Peluh perlahan mengalir
Menahan sesak panas
Menggenangi kecewa
Birahi yang dulu tujuan
Terasa usang berubah nasib
Matamu perlahan memerah
Mengembang air mata luka menganga
Dan sedu sedan lemah
Tanda mata perpisahan
Selasa, 06 November 2018
BICARA WAJAH
(Sepotong wajah selintas resah
Sekerat kisah sepintas desah)
Sejarah dibentuk oleh genangan darah
Menyimpan sakit pada seulas merah
Lukanya menjadi gurat nestapa
Tangisnya suara putus asa
Setiap kerut wajah durjana
Tersenyum keji pada rahasia
Tatap tetap mencari tumbal raga
Sebagai hias sebatas bayang amarah
(Seraut wajah serabut duka
Sewarna tanah sekilas muka)
Waktu menulis takdir dengan seksama
Mantra kutuk ucap serapah
Mulut terkatup baris pagar kata
Pikiran diam sembunyi dalam gundah
Mata menjadi pintu angkara
Sinarnya menyapu tiap terbit tanya
Jiwa yang terpendam kelam maya
Tercetak jelas di raut menua
(Sesimpul wajah segenap usia
Setajam bilah seulas jumawa)
Sekerat kisah sepintas desah)
Sejarah dibentuk oleh genangan darah
Menyimpan sakit pada seulas merah
Lukanya menjadi gurat nestapa
Tangisnya suara putus asa
Setiap kerut wajah durjana
Tersenyum keji pada rahasia
Tatap tetap mencari tumbal raga
Sebagai hias sebatas bayang amarah
(Seraut wajah serabut duka
Sewarna tanah sekilas muka)
Waktu menulis takdir dengan seksama
Mantra kutuk ucap serapah
Mulut terkatup baris pagar kata
Pikiran diam sembunyi dalam gundah
Mata menjadi pintu angkara
Sinarnya menyapu tiap terbit tanya
Jiwa yang terpendam kelam maya
Tercetak jelas di raut menua
(Sesimpul wajah segenap usia
Setajam bilah seulas jumawa)
Senin, 05 November 2018
KERAH BIRU
Matahari timur merambah acak
Pepohonan melepas bayang
Ada kicau burung kutilang
Ada derum mesin mengerang
Sekelumit sinar menerobos
Lewat sobekan lapuk tirai
Menarik mimpiku hingga terjerembab
Dan menggugah mataku mengantuk
Lewat sentuhan jemari cahaya
Ku hempas kantuk dengan air
Ku tepis malas aroma sabun
Di meja berkaki tiga
Secangkir kopi jagung melepas asap
Wanginya memadati kamar
Dan sebatang rokok kretek sisa semalam
Aku kenakan seragam pabrik
Menatap kaca mematut kerut
Menggaris rambut
Lalu duduk menghadap kopi jagung dan rokok kretek
Sepatu kets asli palsu, sudah
Gadget cina angsuran, sudah
Jaket lokal kulit imitasi, sudah
Motor kredit, dikeluarkan perlahan
Di start dan mendengking lembut
Gelombang menyemut carut marut
Dengan warna dan gerak seragam
Tinggalkan gubuk buruk bertumpuk
Berjalan bersama ribuan wajah
Masuki gerbang serupa mulut menganga
Menjual tenaga dan waktu
Diayak sistem dan mesin
Untuk mendapatkan UMR
Pepohonan melepas bayang
Ada kicau burung kutilang
Ada derum mesin mengerang
Sekelumit sinar menerobos
Lewat sobekan lapuk tirai
Menarik mimpiku hingga terjerembab
Dan menggugah mataku mengantuk
Lewat sentuhan jemari cahaya
Ku hempas kantuk dengan air
Ku tepis malas aroma sabun
Di meja berkaki tiga
Secangkir kopi jagung melepas asap
Wanginya memadati kamar
Dan sebatang rokok kretek sisa semalam
Aku kenakan seragam pabrik
Menatap kaca mematut kerut
Menggaris rambut
Lalu duduk menghadap kopi jagung dan rokok kretek
Sepatu kets asli palsu, sudah
Gadget cina angsuran, sudah
Jaket lokal kulit imitasi, sudah
Motor kredit, dikeluarkan perlahan
Di start dan mendengking lembut
Gelombang menyemut carut marut
Dengan warna dan gerak seragam
Tinggalkan gubuk buruk bertumpuk
Berjalan bersama ribuan wajah
Masuki gerbang serupa mulut menganga
Menjual tenaga dan waktu
Diayak sistem dan mesin
Untuk mendapatkan UMR
Minggu, 04 November 2018
KAKIKU TERANTUK
Kakiku terantuk daun pintu
Sakitnya melesat cepat ke otak
Spontan mulutku teriak: "Bangsat!"
Engsel pintu berderit
Terkekeh di atas deritaku
Pintu bergoyang menari
Sakit perlahan berdenyut
Ada luka menitik merah
Kulit ari terkelupas
Tertatih aku menuju lemari
Sebotol obat luka kurogoh
Kuteteskan pada luka. Namun kosong
Kucoba tuang ke telapak
Tak ada cair mengalir
Kubanting tutup dan membatin: "Bangsat!"
Sakitnya melesat cepat ke otak
Spontan mulutku teriak: "Bangsat!"
Engsel pintu berderit
Terkekeh di atas deritaku
Pintu bergoyang menari
Sakit perlahan berdenyut
Ada luka menitik merah
Kulit ari terkelupas
Tertatih aku menuju lemari
Sebotol obat luka kurogoh
Kuteteskan pada luka. Namun kosong
Kucoba tuang ke telapak
Tak ada cair mengalir
Kubanting tutup dan membatin: "Bangsat!"
Sabtu, 03 November 2018
AKU TERMANGU
Garis wajah lugas tertatah sebab panas dan angin
Tegas warisi sudra pangku derajat brahman
Kulit tembaga tua warna tanah tumpah
Mengecap selera pawon simbok di lembur
Busana modis berbanding lurus bangku pendidikan
Duduk elegan berhak tinggi komunitas eksklusif
Jelata menaiki langit berbekal bimbang dan canggung
Satu kaki memijak ambisi kaki lain terpincang
Tahbiskan cita diri sebagai warganegara dunia
Batas tiada halang untuk berbaur gaul
Jarak merapat serupa pernikahan antar ras
Semesta alit dan jagat wadag berpadu satu
Negara beragama dunia sekte teknologi
Budaya berbasis cepat saji dan industri
Koneksi terhubung oleh serat dan cahaya
Sekat hanya norma yang sering kali kalah
Komunikasi hanya berbatas kuota dan harga
Tegur sapa membentuk tingkat kelas sosial
Ketika bunda memanggil mengirim pesan rindu
Lidah terbata mengeja cinta dengan bahasa ibu
Tegas warisi sudra pangku derajat brahman
Kulit tembaga tua warna tanah tumpah
Mengecap selera pawon simbok di lembur
Busana modis berbanding lurus bangku pendidikan
Duduk elegan berhak tinggi komunitas eksklusif
Jelata menaiki langit berbekal bimbang dan canggung
Satu kaki memijak ambisi kaki lain terpincang
Tahbiskan cita diri sebagai warganegara dunia
Batas tiada halang untuk berbaur gaul
Jarak merapat serupa pernikahan antar ras
Semesta alit dan jagat wadag berpadu satu
Negara beragama dunia sekte teknologi
Budaya berbasis cepat saji dan industri
Koneksi terhubung oleh serat dan cahaya
Sekat hanya norma yang sering kali kalah
Komunikasi hanya berbatas kuota dan harga
Tegur sapa membentuk tingkat kelas sosial
Ketika bunda memanggil mengirim pesan rindu
Lidah terbata mengeja cinta dengan bahasa ibu
Kamis, 01 November 2018
MIMPI SUREALIS
Jalan menanjak melandai menuju ufuk
Matahari tertahan di ceruk membelah biru
Seumpama rumput menguning
Bebatuan tersapu angin puting
Jalan mulai bergelombang
Onak tersembul di tiap tikung
Di depan jembatan berderit
Bergoyang bertelekan tanaman rambat
Sungai tak hendak beriak
Berwarna kesumba dan diam
Selintas ikan berenang melenggok
Seringai gigi dan tajam sirip
Jejak langkah di rumah kaca
Bintang berkedip kunang-kunang
Serumpun kemuning menatap langit
Kelopaknya sebagai pigura. Asing
Luasan cakrawala nuansa telur asin
Setangkup awan digiring sekawan punai
Gunungan menancapkan kaki dalam-dalam
Aku dan pelangi sendiri berbagi sepi
Nyamuk terperangkap hilang dengung
Memijah di hamparan nuansa kerontang
Aku terpana bentuk abstrak di tembok mimpi
Seolah semua merajam kesadaran
Tiba-tiba,
mataku nyalang
keringat mengalir
langit kamar tertindih gelap
Di sisiku, istri tertidur
Memeluk mimpi
Mendengkur halus
Damai
Matahari tertahan di ceruk membelah biru
Seumpama rumput menguning
Bebatuan tersapu angin puting
Jalan mulai bergelombang
Onak tersembul di tiap tikung
Di depan jembatan berderit
Bergoyang bertelekan tanaman rambat
Sungai tak hendak beriak
Berwarna kesumba dan diam
Selintas ikan berenang melenggok
Seringai gigi dan tajam sirip
Jejak langkah di rumah kaca
Bintang berkedip kunang-kunang
Serumpun kemuning menatap langit
Kelopaknya sebagai pigura. Asing
Luasan cakrawala nuansa telur asin
Setangkup awan digiring sekawan punai
Gunungan menancapkan kaki dalam-dalam
Aku dan pelangi sendiri berbagi sepi
Nyamuk terperangkap hilang dengung
Memijah di hamparan nuansa kerontang
Aku terpana bentuk abstrak di tembok mimpi
Seolah semua merajam kesadaran
Tiba-tiba,
mataku nyalang
keringat mengalir
langit kamar tertindih gelap
Di sisiku, istri tertidur
Memeluk mimpi
Mendengkur halus
Damai
Langganan:
Postingan (Atom)
LELAKI YANG MENGGADANG MALAM
Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...