Malam ini hujan tidak datang
Tiada kabar hanya angin berdesir
Langitpun tersenyum bisu
Sembunyi di gumpalan awan
Kunang-kunang berhamburan
Menantang bintang
Pamer kedip kelip
Merambah lembar malam
Malam ini hujan tidak datang
Sekedar rintik pun tiada sapa
Hanya janji bila kan tandang
Sebab cuaca menegas jumpa
Bulan pucat tertusuk ranting
Bulatnya penuh tiada mendung
Serangga terbang dan menari
Setangkai warna menghias malam
Kamis, 14 Maret 2019
Senin, 11 Maret 2019
WAKTU TIDAK MENANTI
Waktu lahir dari rahim dimensi
Melesat pesat tunggangi semesta
Hilang rintang hindar lengkung
Tinggalkan sesal di kenang
Ketika bersua pikir mengukir takdir
Waktu merambat ikuti suasana hati
Lama jadi api, lambat bila sunyi
Sedangkan lintasan telah tetap
Seperti sungai rindu pada muara
Waktu menembus batas langit
Luluh lantakkan ruang
Lebur dalam keabadian hampa
Melesat pesat tunggangi semesta
Hilang rintang hindar lengkung
Tinggalkan sesal di kenang
Ketika bersua pikir mengukir takdir
Waktu merambat ikuti suasana hati
Lama jadi api, lambat bila sunyi
Sedangkan lintasan telah tetap
Seperti sungai rindu pada muara
Waktu menembus batas langit
Luluh lantakkan ruang
Lebur dalam keabadian hampa
Minggu, 10 Maret 2019
PUISI-PUISI PENDEK : MARET
Sebaris garis
Seluas ruas
Mengais tangis
Menukas lekas
Selaras kilas
Selintas kias
Meretas batas
Segenap hilap mengisi hati setiap tetes air mata membilas luka
------------------------------------------
Baris kata
Di lembar senyap
Mengeja makna
Selarik tanya
Menukas hening
Menyimpan jawab
-------------------------------------------
Tinggalkan hati
selepas purnama
sebab takdir
Onak dan kerikil
renggangkan arah
Jauhi bayangmu
----------------------------------------------
Hari di ujung lintasan
Teja merangkul temaram
Lamunan merebak
Merenda pikir dan luka
-----------------------------------------------
Banyak tahun genapi janji
Amarah dan air mata tenunan cinta
Biduk nyaris menepi
Menyingkap riak
Memecah gelombang
Tautan hati dan kata
Jembatani keniscayaan
Torehkan kabar
------------------------------------------------
Kepala lelah
Mencoba rebah
Pikiran ramai
Mendebat kantuk
Mata memerah
Letakkan lelah
Nyamuk mendenging
Merebut kantuk
------------------------------------------------
Kenangan tinggalkan usia
Merambah senja
Perlahan hilang
Jadi riak kecil kesadaran
Seluas ruas
Mengais tangis
Menukas lekas
Selaras kilas
Selintas kias
Meretas batas
Segenap hilap mengisi hati setiap tetes air mata membilas luka
------------------------------------------
Baris kata
Di lembar senyap
Mengeja makna
Selarik tanya
Menukas hening
Menyimpan jawab
-------------------------------------------
Tinggalkan hati
selepas purnama
sebab takdir
Onak dan kerikil
renggangkan arah
Jauhi bayangmu
----------------------------------------------
Hari di ujung lintasan
Teja merangkul temaram
Lamunan merebak
Merenda pikir dan luka
-----------------------------------------------
Banyak tahun genapi janji
Amarah dan air mata tenunan cinta
Biduk nyaris menepi
Menyingkap riak
Memecah gelombang
Tautan hati dan kata
Jembatani keniscayaan
Seperti musim
Angin datang dan pergiTorehkan kabar
------------------------------------------------
Kepala lelah
Mencoba rebah
Pikiran ramai
Mendebat kantuk
Mata memerah
Letakkan lelah
Nyamuk mendenging
Merebut kantuk
------------------------------------------------
Kenangan tinggalkan usia
Merambah senja
Perlahan hilang
Jadi riak kecil kesadaran
-------------------------------------------------
Lidah api
Mengejar bayang
Membakar kayu
Abu berserak
Rebah di pawon
Terpapar bara
--------------------------------------------------
Menyapu lantai
Melap debu
Bersihkan hati
Matahari pagi
Masuki jendela
Buka cakrawala
---------------------------------------------------
Lidah api
Mengejar bayang
Membakar kayu
Abu berserak
Rebah di pawon
Terpapar bara
--------------------------------------------------
Menyapu lantai
Melap debu
Bersihkan hati
Matahari pagi
Masuki jendela
Buka cakrawala
---------------------------------------------------
Senin, 04 Maret 2019
UDARA YANG DIHIRUP
Setiap tarikan nafas adalah kematian
Paru terasa penuh terisi jelaga
Nasib terpangkas sembilu congkak
Usia tenggelam dalam ratap serapah
Pagi ketika udara mengirim bau
Lewat kayu bakar dan kotoran
Cerobong berlomba melukis hitam di langit
Anak mengulum upas memamah debu
Di jalan setiap roda adalah sang maut
Memanggul knalpot menyandera hidung
Wajah hanya bayang tak acuh
Tiada senyum kecuali derum gas menyalak
Matahari terik udara tipis
Tubuh tersandera di balik tembok
Menghirup udara sintetis
Berulang hingga mabuk
Jendela pun enggan mengembun
Pintu berderit sebab karat mengerat
Kita terpenjara dalam mesin inkubasi
Sehingga dingin mengering
Malam menurunkan tirai
Dikepungnya kamar oleh racun sebab iklan
Dibakar, disemprot, dioles bahkan diminum
Malaikat maut pun enggan menyambangi
Paru terasa penuh terisi jelaga
Nasib terpangkas sembilu congkak
Usia tenggelam dalam ratap serapah
Pagi ketika udara mengirim bau
Lewat kayu bakar dan kotoran
Cerobong berlomba melukis hitam di langit
Anak mengulum upas memamah debu
Di jalan setiap roda adalah sang maut
Memanggul knalpot menyandera hidung
Wajah hanya bayang tak acuh
Tiada senyum kecuali derum gas menyalak
Matahari terik udara tipis
Tubuh tersandera di balik tembok
Menghirup udara sintetis
Berulang hingga mabuk
Jendela pun enggan mengembun
Pintu berderit sebab karat mengerat
Kita terpenjara dalam mesin inkubasi
Sehingga dingin mengering
Malam menurunkan tirai
Dikepungnya kamar oleh racun sebab iklan
Dibakar, disemprot, dioles bahkan diminum
Malaikat maut pun enggan menyambangi
Minggu, 03 Maret 2019
SAJAK AKROSTIK
Rentang sebagaimana usia meregang
Empati seumpama refleksi mata hati
Tiada angan semisal pijak nurani
Nanar pandang sebagai kilau kemilau janji
Olah segenap harap kerap menghadap
Gelap hamparan malam terpana bintang
Alihkan kantuk dan cemas serupa gairah
Lembar kata mendobrak terserak
Intuisi berubah jadi kalimat mengikat
Hendaknya ide menjadi tinta pengikat hati
Waktu hanyalah angka terbilang
Impian sesaat yang kadang berulang
Jejaknya berhenti menetap di ujung
Anganpun terbang terbawa angin
Yang menebar senyum dalam senyap
Adapun seri wajahmu teduh serupa gumpalan awan
Namun tiap kilah yang terungkap
Tiada tinggalkan kisah renggang menggenang
Inisiasi keberanian layaknya ucap jawab
Empati seumpama refleksi mata hati
Tiada angan semisal pijak nurani
Nanar pandang sebagai kilau kemilau janji
Olah segenap harap kerap menghadap
Gelap hamparan malam terpana bintang
Alihkan kantuk dan cemas serupa gairah
Lembar kata mendobrak terserak
Intuisi berubah jadi kalimat mengikat
Hendaknya ide menjadi tinta pengikat hati
Waktu hanyalah angka terbilang
Impian sesaat yang kadang berulang
Jejaknya berhenti menetap di ujung
Anganpun terbang terbawa angin
Yang menebar senyum dalam senyap
Adapun seri wajahmu teduh serupa gumpalan awan
Namun tiap kilah yang terungkap
Tiada tinggalkan kisah renggang menggenang
Inisiasi keberanian layaknya ucap jawab
MENGAPA BERMIMPI
Telapak bersedekap
Punggung lengan meraih pipi
Menahan beban mimpi
Mata sembap
Rebah di hamparan bawah sadar
Kupas segala luka nganga
Segenap duka lara
Berpilin di sekujur ingatan
Celah mimpi koyak
Robek tercabik
Masuki belantara liar
Tiada lekang meradang
Seperti kendali
Mimpipun terkulai
Mengetuk jendela hati
Tuntas di akhir hari
Punggung lengan meraih pipi
Menahan beban mimpi
Mata sembap
Rebah di hamparan bawah sadar
Kupas segala luka nganga
Segenap duka lara
Berpilin di sekujur ingatan
Celah mimpi koyak
Robek tercabik
Masuki belantara liar
Tiada lekang meradang
Seperti kendali
Mimpipun terkulai
Mengetuk jendela hati
Tuntas di akhir hari
TIADA CINTA DI JANTUNG KOTA
Nyala api rokok
Seperti kunang-kunang
Menembus merkuri
Menebar bau kretek murahan
Campuran tembakau dan cengkeh
Berdiri di bawah lampu
Serangga menerjang ajal
Hujan mulai rintik
Baju tak kuasa menolak dingin
Rokok dihisap dalam
Campakkan pahitnya pada hidup
Malam kian renta
Orang lalu lalang tinggal satu dua
Pedagang kecil mangkal
Di semak samar cekikikan genit
Bau arang bara tercium angin
Penjual sate lewat
Ting... ting..., suara piring beradu sendok seng
Penjual sekoteng tawarkan hangatnya jahe
Becak mangkal di perapatan
Dilindungi sorot lampu jalan
Hati mulai was-was
Tiada langganan cinta mendatangi
Menawar murah pelukan asmara
Perut keroncongan
Seharian tiada nasi masuki tubuh
Hanya air kendi
Dibakar batang rokok terakhir
Berjalan gontai pindah mangkal
Siapa tahu ada mangsa
Terutama anak puber ingin tahu
Wajah tersorot lampu kuning merkuri
Riasannya tebal dan lelah
Tubuh kurus bayang muram
Dihisapnya rokok hingga asap penuhi paru-paru
Menekan sedikit gelisah di otak
Menipu perut dengan kenyang palsu
Jam lewati sepertiga terakhir
Tanpa langganan menghampir
Terpaksa kembali ke gubuk
Di sisi barat rel berkarat
Dengan harap tiada pukul dan tendang
Juga serapah kotor karena tak bawa receh
Sebelum dia meniduri tubuh lelahku
Di atas tikar lusuh berwarna kumal
Seperti kunang-kunang
Menembus merkuri
Menebar bau kretek murahan
Campuran tembakau dan cengkeh
Berdiri di bawah lampu
Serangga menerjang ajal
Hujan mulai rintik
Baju tak kuasa menolak dingin
Rokok dihisap dalam
Campakkan pahitnya pada hidup
Malam kian renta
Orang lalu lalang tinggal satu dua
Pedagang kecil mangkal
Di semak samar cekikikan genit
Bau arang bara tercium angin
Penjual sate lewat
Ting... ting..., suara piring beradu sendok seng
Penjual sekoteng tawarkan hangatnya jahe
Becak mangkal di perapatan
Dilindungi sorot lampu jalan
Hati mulai was-was
Tiada langganan cinta mendatangi
Menawar murah pelukan asmara
Perut keroncongan
Seharian tiada nasi masuki tubuh
Hanya air kendi
Dibakar batang rokok terakhir
Berjalan gontai pindah mangkal
Siapa tahu ada mangsa
Terutama anak puber ingin tahu
Wajah tersorot lampu kuning merkuri
Riasannya tebal dan lelah
Tubuh kurus bayang muram
Dihisapnya rokok hingga asap penuhi paru-paru
Menekan sedikit gelisah di otak
Menipu perut dengan kenyang palsu
Jam lewati sepertiga terakhir
Tanpa langganan menghampir
Terpaksa kembali ke gubuk
Di sisi barat rel berkarat
Dengan harap tiada pukul dan tendang
Juga serapah kotor karena tak bawa receh
Sebelum dia meniduri tubuh lelahku
Di atas tikar lusuh berwarna kumal
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...