Sabtu, 10 Oktober 2020

BERITA CUACA

Hujan datang kepada kami
Dikemas dalam bentuk berita pagi
Sambil sarapan rumah terendam banjir
Penampungan penuh tangis bayi

Kopi tinggal separuh cangkir
Volume dikecilkan karena telpon berdering
Dapur umum tengah memasak mie
Bantuan dari sebuah mobil bertuliskan  partai

Wajah-wajah telah lelah dan lesi
Berbagi sedikit ruang mengungsi
Anak-anak mencoba menjangkau kamera
Reporter mengumumkan dompet bantuan televisi swasta

Jumat, 09 Oktober 2020

KULI

Senyum itu ketika
Peluh menetes di pelipis
Tangan-tangan kasar menerima upah
Sedang matahari belum beranjak senja

Senang itu ketika
Sepeda dipancal menuju rumah
Di kantong tersimpan hidup seminggu
Dan jajan untuk anak

Bahagia itu ketika
Upah berpindah tangan
Malam dilawuhi pindang bumbu rujak
Dan ranjang yang berkeringat

Syukur itu ketika
Menyisihkan lelah sejenak
Sujud berdua dengan kantuk
Berterimakasih pada hidup

Kamis, 08 Oktober 2020

ANARKI

Sesungguhnya batu tidak ingin ikut
Mereka direnggut oleh tangan beringas
Lalu diadu dengan perisai polisi
Hingga mereka menjadi garda terdepan demo

Minyak telah sembunyi di dalam jerigen
Namun tangan kriminil membawanya ke tengah kericuhan
Menyiramkannya ke instalasi milik umum
Sebagai undangan untuk mendatangkan saudaranya, kobaran api

Batu berserakan di tengah berusaha netral
Emosi yang menyulut amarah tidak mau tahu
Mereka diperalat kedua pihak yang berseberangan
Akhirnya dilempar dan menjadi pelengkap penderita

Api sebenarnya telah nyaman di dalam korek
Tangan anarki dengan kasar merenggutnya
Dengan diiringi teriakan histeris masa
Api dipertemukan dengan saudaranya, minyak

Rabu, 07 Oktober 2020

WARISAN

Matamu buah badam
Bulat dengan binar yang hidup
Selalu riang penuh antusias

Dekik di pipimu ada begitu saja
Ketika bibirmu mengembang senyum
Membuat warna kulitmu kian tanah

Sewaktu bicara kicau prenjak
Seluruh tubuhmu bergerak
Menatap, mendongak, mengangguk

bahkan rambutmu surai kuda poni
Memenuhi udara dengan gairah
Seperti lebah menari 

Demikian engkau mewarisinya
Seperti sewaktu muda 
Ketika kakek terpana


Selasa, 06 Oktober 2020

MENGALAH

Adakalanya kita hanya bisa menelan amarah
Memeramnya seperti bisul
Sehingga hati sebah dan sesak

Serasa ingin melepehnya
Di kubangan pertengkaran
Dan memuntahi wajah emosimu

Tetapi ketika kita sedikit mundur
Menjauhi arena pertarungan adu kata yang melukai
Yang diasah oleh bisikan egois

Mata batin dapat menimang
Semua hanya omong kosong gengsi 
Dan salah paham yang ditiupkan

Senin, 05 Oktober 2020

PULANG

Kaki ini telah menginjak tanah yang asing, cuaca yang asing 
dan petualangan yang asing

Hati ini telah dipenuhi rindu yang kering, kenangan yang hening 
dan air mata yang bening

Tahun telah lama tinggalkan tanah tumpah, tubuh tua yang lemah 
dan usia yang lelah

Mata tetap menatap harap yang samar,
suara emak yang sabar 
dan sawah tadah hujan tiada lebar

Akhirnya kaki kembali tertatih, 
mengikuti jejak pulang nan letih
dan membawa segenap pedih

TRAGEDI

Darah di atas atap
Adalah pertanda kasih tak sampai

Ketika seekor perkutut menanti janji
Bersua kekasih di atas genteng

Tiba-tiba pemburu membidik jiwa
Dan melepas peluru nasib

Sehingga perkutut terburai otaknya
Tubuhnya terkulai di tengah penantian

Sebagai tanda janji setia bagi belahan jiwanya
Dilukisnya rindu dengan darah di atas atap

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...