Rabu, 10 November 2021

JAHAT 1

Tok... tok... tok... 
Suara pintu diketuk
Dari atas ranjang besar dan antik seorang tua menjawab, masuk!!! 
Seorang pelayan berseragam mendorong troli berisi makanan
Di tepi ranjang disiapkannya sarapan berupa air putih, jus, telur rebus dan roti panggang
Diletakkannya sarapan itu di depan orang tua
Sambil duduk tangannya dikibaskan untuk mengusir pelayan itu
Ketika sedang mengunyah, tiba-tiba sang pelayan mengambil sebuah benda berkilau. Pisau. Dari balik bajunya. 
Tanpa ba bu pisau ditikamkan ke dada orang tua hingga koyak
Orang tua kaget hingga lupa berteriak
Matanya membelalak tak percaya
Pisau menghujam dalam di dadanya
Darah mengalir berwarna merah menggenangi kasur
Pelayan mendekatkan mulutnya di telinga orang tua sambil berbisik, ini tusukan untuk porak porandanya rumahku
Ia menusuk berulang-ulang
Setiap menusuk ia berbisik, ini untuk ayah ibuku yang mati kecewa, untuk istriku yang terganggu jiwanya, untuk anak-anakku yang tercerai berai di jalanan, untuk tetanggaku yang kehilangan rumah dan lingkungan
Genap tujuh kali ia menusuk tubuh orang tua
Mata tuanya kian hilang sinarnya dan terbelalak
Lalu dicabutnya pisau dan diletakkan di meja
Si pelayan perlahan berjalan ke meja telpon
Diputarnya nomor, 911
Dari telpon terdengar suara, halo di sini 911, bisa saya bantu? 
Setengah berbisik si pelayan membalas, ada pembunuhan di mansion sang konglomerat

Selasa, 09 November 2021

JALANG 2

Jalang adalah nama tengahku
Ku biakkan dosa sebagai kecambah
Berkembang menjadi birahi
Birahi yang dijual ketengan demi receh

Senja adalah waktu yang tepat untuk menebar jala
Mata kailnya diberi umpan
Campuran bau rokok, parfum kodian dan sedikit keringat
Dengan cepat ia menjaring nafsu

Setelah dosa bersalin rupiah
Ia bergegas keluar dari sarangnya
Dengan uang yang mesum di tangan
Dibelinya kebutuhan sehari-hari


Minggu, 07 November 2021

BODOH

Ia lincah berpindah
Dengan baju elegan
dan riasan yang kerlip
Ia hanya dandan khusus untukku
Aku bimbang

Ia berbicara serupa prenjak
Riuh dan riang
Menjadi pusat semesta dan titik pandang
Kata-katanya seperti peluru
Ditembakkan khusus ke hatiku
Aku ragu

Ia memakai harum
Baunya tak lekang
Sebagai feromon membangkitkan birahi
Jantungku berdetak kencang
Aku takut

Sekian tanda memberi sinyal
Sebagai undangan masuki hatinya
Semua rambu telah hijau
Aku bimbang, ragu dan takut
Aku bodoh!!! 

Sabtu, 06 November 2021

NAIF

Mataku hanya memandang lewati jarak
Di belantara ingatan yang lebat
Ia menyibakkan rambut panjangnya
Wajahnya menghadap ke rasa maluku

Mataku kian lekat mengawasi garis tubuhmu
Ada birahi seperti api dan tatap
Hatiku berdesir sedikit malu
Namun wajahmu tak hendak berpindah

Mataku likat hingga terpejam
Ketika senyummu mengambang
Rona wajahmu sumringah merah dadu

Mataku kembali menunduk
Mengikuti mimpiku yang rindu
Wajahmu tertera di hatiku

Jumat, 05 November 2021

SARAPAN

Sarapan pagiku adalah berita, 
gambar-gambar yang bercerita, dan
iklan yang mengepung
Serta sisa kantuk di kantung mata

Sarapan pagiku adalah wawancara, 
dengan penyiar yang tendensius, dan
nara sumber yang gugup
Serta gambar iklan di setiap pojok

Sarapan pagiku adalah secangkir kopi, 
obat kolesterol, darah tinggi dan jantung
Variety show yang sampah

Sarapan pagiku adalah sendiri,
hanya cuci otak oleh iklan, 
tayangan yang tak mendidik

Senin, 01 November 2021

PEMANGKU ILMU

Di podium ia menggelontorkan kata
Tumpah ruah ke khalayak hingga berbuih
Setiap mata yang lapar pengetahuan
Menatap pada satu titik, hikmah

Setelah sekian lama disiram ceramah dan panas mentari
Gerombolan mulai menyalak galak
Semua mulut menyeringai
Lalu dimamahnya setiap omong kosong

Sang pemangku ilmu tetap berbicara hingga kering
Menyuntikkan setiap dogma dan racun ke dalam pembuluh otak
Orang-orang kian buas dan mulai bertingkah liar
Sedangkan siang kian berkobar dibakar api kebencian

Tangan menjamah dan kaki menendang
Dirobeknya tenun persatuan hingga menetes darah. Merah
Dirubuhkannya sendi dan fondasi
Sementara pemangku tersenyum riang, tangannya berlumuran harta

GERIMIS

Wajah sore ketika itu sedikit pucat
Tak ada angin hanya sumuk
Mendung serupa riasan, tebal
Melingkupi menutupi

Sedikit demi sedikit langit merekah
Menumpahkan kandungannya
Titik air yang jatuh bersatu dengan tanah
Melepas petrikor dari pelukannya


AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...