Selasa, 15 April 2025

MENGAPA BULAN ITU

Wajah tirusnya sabit
Manjing di cakrawala
Garisnya murung 
Cahaya pun terpasung

Ronanya pucat, pilu
Seribu doa sembilu
Aku terus menatap dengan kesima
Tanpa sadar mulutku bergumam 

Bulan tak purnama lagi
Manzilahnya hampir berakhir 
Dari sudut hati
Ia terbenam sambil menangis sedih

Jumat, 11 April 2025

MENGHABISKAN WAKTU

Ku datangi setiap senja yang melintas
Dengan membawa hujan maupun kemarau
Bahkan angin laut yang basah

Setiap detiknya ku hitung dengan seksama 
Hingga berdesak sesak di relung batin
Namun waktu terus saja melintasi ruang

Dalam hitungan tahun; datang dan pergi
Waktu tetap saja menghilir
Tak beriak hanya mengalir

Rabu, 09 April 2025

BIARKAN SAJA HUJAN ITU

Tak angin hanya saja hujan 
Air beriak hingga pelimbahan
O, kenangku
Senyummu
Cintaku jauh
Rindu kupeluk

Daun menghilir menanggung pesan
Kasih tak sampai hanya impian semusim

Minggu, 06 April 2025

BINCANG DENGAN ANGIN

Sambil uluk salam angin mendatangi berandaku
Ia berbisik halus di tepian telinga
Lalu bermain sekejap dengan helai rambutku

Demikian cukup basa basi dengan belai halus di wajahku
Diletakkannya dedaunan kering di atas lantai duka
Sebagai sesaji bagi musim yang temberang

Setelah lengkap segala ucap
Sepenuh dekap ia merintih
Dimanakah sejuk kini berada?

Sabtu, 05 April 2025

ARISAN

Kusimpan saja kabar 
Pada angin ia berkeluh

Sore masih hangat
Matahari terawang

Secepat langkah mengayun
Tetangga jua berkumpul

Nomor diaduk, diundi
Tatap harap menghadap

Ketika angka diteriakkan 
Jerit kemenangan menyibak kerumunan


Jumat, 04 April 2025

KOMPROMI

Seperti beralih topeng
Tabir hati tak mimik
Dengan sedikit riasan
Kita jembatani perbedaan

Bertukar kata
Berbagi lirikan
Sepenggal kisah
Sekejap resah

Tiada ungkap
Hanya sikap
Ketika berjabat
Luruh harkat martabat 

Kamis, 03 April 2025

DARI KURSI KERETA

Senja di ujung rel
Kereta bersilang
Suaranya saling 
Melepas salam

Aku terduduk
Menatap nanar
Dari jendela
Pohonan berkejar

Dua anak berebut
Ibu berpeluh memisah
Satu menagih
Yang lain menangis

Seorang bapak menoleh
Berjalan perlahan
Mencocokkan nomor
Sambil menarik koper

Dari kursiku
Kuhempas capai lelah
Mataku berat
Kantuk bergayut

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...