Rabu, 30 September 2020

SAKTI

Adalah ribuan nyawa meregang
Diiringi yel-yel yang menyihir
Darah yang menyuburkan pertiwi
Menyembur deras dari leher dukana
Perpisahan oleh jarak dan waktu
Juga oleh ideologi dan dengki
Saudara yang dijagal
Sebagai korban persembahan anak altar

Kemenangan dengan dalih pembebasan
Pembebasan yang menindas
Seperti mata pisau keadilan
Yang hanya mau menusuk
Tidak mengasah

Setelah tahun-tahun yang menangis
Kesaktian dibungkus segala dongeng
Dihiasi mitos dewa dewi durjana
Mata hanya menerima silau
Segala omong kosong pengamalan dan penghayatan
Menjadi agama baru bagi perut buncit
Disuntikkan ke jiwa yang kosong
Sehingga kebenaran menjadi hak penguasa

ALGOJO

Sluku bathok
Tangan diikat letih

Putus asa
Wajah tak huruf

Pedang berkilat
Tajam api suluh

Mata merah
Penuh liar amarah

Leher ditetak
Suara babi ngorok

Darah terburai
Bilah dijilat kering

Bangkai tercebur
Sungai merah sumba

Selasa, 29 September 2020

G30S

Malam telah terpasung
Petromak sedikit bergoyang sebab angin
Kerumunan terus bertambah
Kepala Desa mengucap sekapur sirih

Televisi bertengger di tonggak
Di pinggir lapangan voli balai desa
Ceritanya hitam putih
Tentang propaganda yang menghibur

Penduduk membentuk setengah lingkaran
Mata mereka mendongak
Tak laki tak juga perempuan
Semua mendadak cerdas berkomentar

Adegan telah sadis semburat darah
Adik bayi menangis kegerahan di gendongan
Ibu mengeluarkan tetek, pentilnya disodorkan
Di sebelah seorang lelaki merokok klobot

Tokoh baik dan jahat tampil silih berganti
Korban tujuh sebagai tumbal
Tiba-tiba gambar mengecil memper garis
Kamituwo tadi pagi lupa menyetrum aki

Untuk menuntaskan acara heroik
Perangkat memasang lagu mars perjuangan
Suaranya mendayu karena baterai tidak baru
Satu per satu orang meninggalkan sepi di pelataran

Kisah setiap tahun dibangkitkan
Pahlawan dan penjahat sudah jelas
Rakyat mencari hiburan
Karena sejarah ditulis oleh pemenang

BERTANDANG

Dengan membawa seikat rindu
Kau datangi malam muda

Kita duduk di kursi penjalin
Yang mengkilap karena usia
Sambil menikmati teh seduhan
Dan obrolan ringan

Ucap mengacak kenangan
Tentang tahun yang hilang

Kita mengemas tawa
Menutur kebodohan yang memalukan
Juga sedih merintih
Sebab kemana semua jejak mengarah

Diam nyatanya menjadi yang ketiga
Karena haru biru di pelupuk

Rindu telah menggenang
Kata kini tersedak
Cangkir hanya tersisa dingin
Angin mengantar malam

Senin, 28 September 2020

BULAN BARU

Kemarau telah sekarat di akhir
Dilepasnya semua panas dengan membabi buta
Dan langit sumringah karena cerah

Dengan sisa tenaga dihalaunya awan
Agar tidak berkumpul dan memberi teduh
Agar tiada hujan menghujam kerontang

Angin yang biasanya menitipkan kabar
Hanya berhembus dan murung
Meratapi daun dan bambu

Jika titik kulminasi telah bergulir
Musim berganti
Langit menangis bahagia

Minggu, 27 September 2020

KEBUN SENGON BELAKANG RUMAH

Sengon berdesakan berbagi hidup
Pucuknya berebutan menggapai
Burung kecil enggan bernyanyi
Sebab matahari tertutup kanopi

Secang menjadi pagar pembatas
Durinya menjaga dan mengawasi
Tanah kebun pecah dan kering
Sejumput rumput merana

HUTAN JATI

Daun jatuh berguguran
Pohon mendelu kelabu
Merebut hidup dari kemarau

Hutan hilang rimbun tak simpan angin
Matahari siang tanpa tedeng aling-aling

Daun menumpuk membusuk 
Menutupi tanah rekah
Dengan prihatin menahan air
Dari terik pukau silau

Puyuh mengais mencari
Makan malam keluarga kecil

Garangan diam berwarna humus
Matanya nyalang mengintai
Ketika jarak terungkap
Melompat terukur
Kukunya melesak
Di tubuh ringkih makan malamnya. Puyuh. 

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...