Kamis, 30 Oktober 2025

TA'ZIAH

Ketika itu bendera kuning telah berkibar
Woro-woro dari pengeras masjid menguatkan

Dengan memegang seikat bunga rampai duka lara
Kucurahkan sedikit haru di atas pusara
Sekadar tangis pelepasan arwah
Dan tanda bela sungkawa sedarah

Di rumah, duka belum lagi sirna
Sebab isak belum lagi senyap 
Kuburan jua masih basah oleh doa
Taburan bunga tujuh rupa belum lagi layu

Malaikat tengah bertanya
Wajahnya seringai dan gada dipegangnya

Senin, 27 Oktober 2025

MENCOBA HAL BARU

Dengan sedikit ragu kuraba keingintahuan
Lewat pandang terbitlah tanya

Karena masih potongan tak lengkap,
sebagaimana teka teki maka perlulah mencoba

Dengan beberapa kesalahan
Kita selaraskan arah

Dan tujuan hanyalah jejak langkah
Cukup hanya disusuri hingga hafal

Terbiasa adalah ribuan kali cobaan
Dan pengulangan kebosanan 

Senin, 20 Oktober 2025

BULAN DI ATAS BAHU

Malam belum beranjak tua
Dengung nyamuk masih satu dua
Dan bulan dengan sekulum senyum
Tepat manjing di atas bahu

Sisa hangat siang tadi masih terasa
Seperti kemarau yang sudah
Dari riak di wajah perigi
Bulan menatapku dengan pedih peri

Ketikanya telah sua kantuk
Ku uluk salam sambil menatap
Bulanpun berbaku sedu
Lalu cahayanya menjauh dari tingkap

Jumat, 17 Oktober 2025

EMBUN

Ku singkap embun di selasar
Di balik daun seperti biasanya
Dan pagi masih di timur
Seperti kemarau yang telah lampau 

Burung masih memamerkan warna
Di dahan ia berlompatan
Namun embun tak jua menitik
Hanya saja angin semilir

Pohon pun melepas dahan dan ranting
Melingkupi tanah kering
Bunga tak mekar
Karena embun moksa

Rabu, 15 Oktober 2025

KAMAR OPERASI

Maut mengawasi tanpa suara
Kamar itu pun penuh cahaya
Nyawa terbujur dipertaruhkan
Di tangan nasib ia bersimpuh

Tiada bayangan tersungkur
Di jam jam yang telah lalu
Ketegangan telah memuncak
Karena hidup dan mati hanya seutas 

Di ruang tunggu mulut-mulut berkemak kemik
Wajah-wajah menatap harapan
Doa dilarungkan takut dikabungkan
Detik merambat lambat

Jumat, 10 Oktober 2025

DAUN MUSIM

Daun terapung dan,
jatuh di haribaan
Menanggalkan warnanya dan,
meninggalkan ranting yang merana

Pada kering ia berlabuh
Karena kenangan jelas tertera 
Di tulang daun itu cerita
Menghubungkan pokok, akar dan debu

Daun memohon meratap angin
Agar hujan jatuh melepas badai
Dalam doanya ia merintih
Berharap bersatu dengan bumi

BAHASA DAN AKU

Laiknya berpacaran
Ia memeluk lidah nyaris mengulum
Tak hendak melepas hanya saja swara
Kadang mengemas selarik senyum

Pernah ku diam dan menyimak
Namun kata tetap melepaskan arti
Dari rongga pikiran terdalam
Ia menjelma sebagai kidung dan menari

Ketika itu hati mencoba mencerna
Maka iapun memuntahkan segenap nuansa
Dari warna hingga terpana
Akupun tersihir oleh suara

Rabu, 08 Oktober 2025

DULU....DULU SEKALI

Aku kepayang,
memandang siluetmu dari kejauhan 
hingga terpana tak kata

Terlihat resam tubuhmu 
dengan daster batik 
dan rambut yang digelung

Hatiku berbunga 
ketika ia melempar senyum 
lalu kepalaku seakan membesar 
seperti berisi helium

Ketika pintu ditutup 
nyawaku seakan ikut lenyap dalam senyap sambil mengejar dan menangkap bayangmu 

Selasa, 07 Oktober 2025

DUA SISI

Suara hati dan sinar lembayung 
Waktu yang terus mengejar
Sore pun meringkuk di ufuk
Dan harapan menghampar

Sumringah saat kicau pagi
Bumi yang basah oleh mata air
Menumbuhkan pucuk di cinta
Bersama angin ia menebar

Di sisi hatiku nyatanya belahan jiwa
Ku dekap agar tak kasat nyata 
Dari jarak pandang hingga rongga dada
Adalah persekutuan persetubuhan 

Jumat, 03 Oktober 2025

MABUK KEPAYANG

Pada itu malam 
Di kamar, dilaburi cahya neon
Rinduku meratap di kedip kursor
Hatiku berdegub menatap jawab

Telah senyap pada itu harap
Karena tiada kata bahkan warna
Hanya jangkrik birahi
Dan rintihan kedasih

Tiba-tiba layar menjerit
Sigap kusaut jawabnya
Namun tiada baris kata
Hanya emotikon senyum berkedip

Rabu, 01 Oktober 2025

GANTI MUSIM

Nampaknya musim tak serta merta bergulir
Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik
Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan 

Ketika musim telah mencapai titik kulminasi
Secepatnya ia berubah menjadi awan hitam dan angin
Setelah sekian waktu maka mendung berganti menjadi titik-titik air 

Namun tak selayaknya musim berganti
Sehabis hujan tercurah dari langit 
Keringat tetap mengaliri kening dan pipi

JANGAN TUNGGU LAMA

Tidaklah menunggu  bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga...  Nilai...  Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata