Aku berjarak dengan hidup
Sejauh tembok mengekang
Sebab kenangan kian redup
Sudut melepas batas pandang
Hidup menyisih berkain belacu kasar
Menyelisihi sunyi kaul berkhalwat
Segenap kerumunan liar menghindar
Pikiran tetap hingar menetap kuat
Sekedar senyap genapi niscaya
Sebagai bayang pengganti waktu
Ketika terhenyak ada kau selain hidup
Cinta telah berjarak dengan usia
Selasa, 05 Februari 2019
Minggu, 03 Februari 2019
INFINITI
Aku hanya miliki waktu
Rentan patah sebab takdir
Sepanjang garisnya retak berlubang
Terkait harap yang kadang kosong
Waktu seperti jalan tiada akhir
Tanpa rambu menuju penantian
Tak ada henti bagi lembar hati
Sebagai hitungan maju tanpa jeda
Memilih nasib dari kepingan
Serupa menata kematian kelahiran
Jika waktu dan penantian telah janji sua
Mencari adalah yang ketiga
Rentan patah sebab takdir
Sepanjang garisnya retak berlubang
Terkait harap yang kadang kosong
Waktu seperti jalan tiada akhir
Tanpa rambu menuju penantian
Tak ada henti bagi lembar hati
Sebagai hitungan maju tanpa jeda
Memilih nasib dari kepingan
Serupa menata kematian kelahiran
Jika waktu dan penantian telah janji sua
Mencari adalah yang ketiga
TUMBANG DAN TERPOTONG
I. TUMBANG
Rebah, siku ranting menahan beban
Nafas terhenti daun tercekik
Dahan hilang perkasa
Getah menetes kembali ke bumi
Benalu menangis hilang inang
Lebah cemas mencari sarang
Rantai makanan porak poranda
Pohon tumbang menyandang dosa
II. TERPOTONG
Tumpukan kayu tertata di pojokan
Baunya masih merebak padat
Setiap bilah menjadi tumbal api
Bersemayam jelaga di langit-langit
Daun meregang terpapar mentari
Tanggalkan hidup menjadi tanah
Persembahan untuk ibu bumi
Sebagai biji lahirkan kecambah
Rebah, siku ranting menahan beban
Nafas terhenti daun tercekik
Dahan hilang perkasa
Getah menetes kembali ke bumi
Benalu menangis hilang inang
Lebah cemas mencari sarang
Rantai makanan porak poranda
Pohon tumbang menyandang dosa
II. TERPOTONG
Tumpukan kayu tertata di pojokan
Baunya masih merebak padat
Setiap bilah menjadi tumbal api
Bersemayam jelaga di langit-langit
Daun meregang terpapar mentari
Tanggalkan hidup menjadi tanah
Persembahan untuk ibu bumi
Sebagai biji lahirkan kecambah
AKU KAU
Aku tengah menyandang sombong bak merak
Dunia hanya lipatan kumal pengetahuan
Jejak langkah menjadi tera bagi tiap perjamuan
Segenap pesona terjamah bahasa tubuh
Muda sebagai waktu dan predikat
Hingga nasib menulis di lembar asmara
Sebab telah berkubang di cinta yang sama
Mengais dosa dalam satu liang
Setidaknya kita pernah jadi ikrar
Kau adalah iga kiri ukir berpola mimpi
Retakannya sebangun dengan segala rindu
Senyum dikandung adalah perangkap. Karena terpana
Tubuh sintal beraroma birahi muda
Kerling malu yang membetot lembar jiwa lara
Sedang usia telah matang menanggung beban cinta
Serupa wayang di pelaminan
Sebagaimana kompromi yang satukan alasan
Naib mengikat ego di secarik kertas
Dunia hanya lipatan kumal pengetahuan
Jejak langkah menjadi tera bagi tiap perjamuan
Segenap pesona terjamah bahasa tubuh
Muda sebagai waktu dan predikat
Hingga nasib menulis di lembar asmara
Sebab telah berkubang di cinta yang sama
Mengais dosa dalam satu liang
Setidaknya kita pernah jadi ikrar
Kau adalah iga kiri ukir berpola mimpi
Retakannya sebangun dengan segala rindu
Senyum dikandung adalah perangkap. Karena terpana
Tubuh sintal beraroma birahi muda
Kerling malu yang membetot lembar jiwa lara
Sedang usia telah matang menanggung beban cinta
Serupa wayang di pelaminan
Sebagaimana kompromi yang satukan alasan
Naib mengikat ego di secarik kertas
Sabtu, 02 Februari 2019
MENDEKORASI HARI
Mendekorasi hari itu,
meletakkan senyummu di sela-sela siang
Menyelipkannya di lipatan angin
Dikirim lewat kawanan burung yang melintasi sepi
Awan sebagaimana gulungan asap diikat pita cantik di keningnya
Wajahnya putih semu manis kemalu-maluan
Bertudung langit dengan rona biru mengharu
Mendekorasi hari itu,
membingkai segenap cinta di tiap frasa waktu
Seperti detil ukiran ngerawit di kayu galih asem
Dan mewarnainya dengan riang sinar mentari pagi
Punggung hari seperti lekuk tubuh gadis kencur
Tiada tuntas malunya sebab siang menjelang
Sedangkan tiap kenang memagari elok yang seronok
Mendekorasi hari itu,
kisah-kisah kecil yang saling berpilin menjadi seutas bahagia
Di ujung simpulnya tersemat leontin kuning merah warna hati
Dikalungkan di leher jenjang siang yang gelisah
Jika mendung tiba-tiba menangisi peruntungannya yang menitik
Beranda mengundang dingin dan menghiasi dengan kabut
Lalu meletakkan seluruh lukisan hari di kanvas matra
meletakkan senyummu di sela-sela siang
Menyelipkannya di lipatan angin
Dikirim lewat kawanan burung yang melintasi sepi
Awan sebagaimana gulungan asap diikat pita cantik di keningnya
Wajahnya putih semu manis kemalu-maluan
Bertudung langit dengan rona biru mengharu
Mendekorasi hari itu,
membingkai segenap cinta di tiap frasa waktu
Seperti detil ukiran ngerawit di kayu galih asem
Dan mewarnainya dengan riang sinar mentari pagi
Punggung hari seperti lekuk tubuh gadis kencur
Tiada tuntas malunya sebab siang menjelang
Sedangkan tiap kenang memagari elok yang seronok
Mendekorasi hari itu,
kisah-kisah kecil yang saling berpilin menjadi seutas bahagia
Di ujung simpulnya tersemat leontin kuning merah warna hati
Dikalungkan di leher jenjang siang yang gelisah
Jika mendung tiba-tiba menangisi peruntungannya yang menitik
Beranda mengundang dingin dan menghiasi dengan kabut
Lalu meletakkan seluruh lukisan hari di kanvas matra
MATI
Kita hanya selangkah penuju mati
lompati waktu dan kembang setaman
Sedu sedan sanak mengadu
Mengantar nuju tanah leluhur
Nisan jadi pertanda
Kaki menjejak debu dan semak
Doa dan setanggi merebak
Iringi tangis rindu
Satu demi satu handai beranjak
Tinggalkan duka dan sepi di gundukan
lompati waktu dan kembang setaman
Sedu sedan sanak mengadu
Mengantar nuju tanah leluhur
Nisan jadi pertanda
Kaki menjejak debu dan semak
Doa dan setanggi merebak
Iringi tangis rindu
Satu demi satu handai beranjak
Tinggalkan duka dan sepi di gundukan
PURNAMAKU
Kekasih,
Wajahmu terukir di relung
Bias pelangi dan senyum rekah
Pandangmu kisah gejolak hati
Menabuh irama cinta
Satukan jiwa dalam birahi pagi
Kekasih,
Wajahmu purnama surgawi
Dimana doa menguak takdir
Bergandengan kita susuri hidup
Menganyam suka dan luka
Hingga batas nirwana
Wajahmu terukir di relung
Bias pelangi dan senyum rekah
Pandangmu kisah gejolak hati
Menabuh irama cinta
Satukan jiwa dalam birahi pagi
Kekasih,
Wajahmu purnama surgawi
Dimana doa menguak takdir
Bergandengan kita susuri hidup
Menganyam suka dan luka
Hingga batas nirwana
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...