Sang Batara raksasa
Geliginya kuning
Tajam merajam
Nafas tersengal
Liur menetes
Tegal anyir mayit
Ibu Durga bersimpuh
Tumpukan tulang kelabu
Ruh sesat merintih
Mulut Kala menganga
Waktu melahap Dewi
Perlahan mengulum
Bercampur ludah bacin
Selendang cahaya padam
Hamparan hitam
Manusia menyemut
Menabuh peranti pawon
Teriak amarah
Usir gerhana
Rebut si jelita
Sabtu, 16 Februari 2019
Kamis, 14 Februari 2019
BLOROK
Hari ini hari pasar
Jika si Blorok laku pasti mahal
Kau kuyup bertudung semak
Bulu basah ciap lemah
Ku selipkan di kantong baju kumal
Setengah berlari ku bawa ke gubuk
Makan siang sego gaplek
Berbagi dengan paruhmu mungil
Demikan setiap hari berlalu
Demikian setiap malam bergelung di ujung kaki
Sekian purnama tumbuh gagah
Hari ini hari pasar
Jika si Blorok laku pasti mahal
Emak terbaring lemah
tubuhnya kering dada rata
Jaritnya hilang warna
Batuk pertanda hidup
Dokter jauh obat mahal
Jamu tiada mempan
Dukun menipu tiap barang
Emak kian renta dan ringkih
Desa sebelah datang tukang obat
Kabarnya cespleng segala penyakit
Aku punya harap mendapatkan
Untuk tombo bagi Emak
Hari ini hari pasar
Jika si Blorok laku pasti mahal
Jika si Blorok laku pasti mahal
Kau kuyup bertudung semak
Bulu basah ciap lemah
Ku selipkan di kantong baju kumal
Setengah berlari ku bawa ke gubuk
Makan siang sego gaplek
Berbagi dengan paruhmu mungil
Demikan setiap hari berlalu
Demikian setiap malam bergelung di ujung kaki
Sekian purnama tumbuh gagah
Kluruk sombong kejantanan
Mata tajam taji merobek
Bulu gilap paruh mengoyak
Mata tajam taji merobek
Bulu gilap paruh mengoyak
Hari ini hari pasar
Jika si Blorok laku pasti mahal
Emak terbaring lemah
tubuhnya kering dada rata
Jaritnya hilang warna
Batuk pertanda hidup
Dokter jauh obat mahal
Jamu tiada mempan
Dukun menipu tiap barang
Emak kian renta dan ringkih
Desa sebelah datang tukang obat
Kabarnya cespleng segala penyakit
Aku punya harap mendapatkan
Untuk tombo bagi Emak
Hari ini hari pasar
Jika si Blorok laku pasti mahal
PULAU
Pulauku berkedip ketika teja tenggelam
Berlatar pekat samudera hampa tiada batas
Bersekutu dengan legenda dan fabel
Bergayut rapuh di sekitar kabut susu
Pulauku tempat melarung kaul dan doa
Seperti lampion merah yang menghantar harap
Ekornya panjang menjauhi kelam
Laksana naga berkubang di mega asteroid
Pulauku mengambang terseret arus dan waktu
Saling dorong hingga jarak memuai
Mengarungi segenap gelombang dan gaya
Hanya tinggalkan kedip lemah sebagai suar
Pulauku kian jauh layari tepian galaksi
Bagai pengelana jelajahi batas paling asing
Garis edarnya tersesat dan kompas hilang arah
Perlahan tenggelam terhisap palung lubang hitam
Berlatar pekat samudera hampa tiada batas
Bersekutu dengan legenda dan fabel
Bergayut rapuh di sekitar kabut susu
Pulauku tempat melarung kaul dan doa
Seperti lampion merah yang menghantar harap
Ekornya panjang menjauhi kelam
Laksana naga berkubang di mega asteroid
Pulauku mengambang terseret arus dan waktu
Saling dorong hingga jarak memuai
Mengarungi segenap gelombang dan gaya
Hanya tinggalkan kedip lemah sebagai suar
Pulauku kian jauh layari tepian galaksi
Bagai pengelana jelajahi batas paling asing
Garis edarnya tersesat dan kompas hilang arah
Perlahan tenggelam terhisap palung lubang hitam
Minggu, 10 Februari 2019
CINTA
Cinta adalah kepingan
Saling bertaut membentuk mozaik
Disulam penuh warna bahagia
Sudutnya dikuatkan jalinan cemburu
Gambarnya diarsir bernuansa jambon
Di ruang berdimensi romantis
Jika sinar mata menyoroti
Bayang cinta adalah kompromi
Termaktub jelas di segenap hati
Lukisan tiada sempurna tanpa amarah
Sejumput pemanis di sana
Serumpun menyemak di pikiran
Malam menjadi obatnya
Kadang hanya bisik bibir mengungkap
Saling berpelukan menguatkan jalinan
Waktu sebagai tera nilai lukisan
Menjadikan cemerlang bahkan buram
Sebab rahasia ditambahkan
Sentuhan lembut di kulit
Ucapan manis bunga kata
Perhatian kecil di saat tak duga
Sebutan mesra di tiap papas
Pandangan berbinar pipi merona
Mengusap lukisan jadi kilap
Waktu yang panjang mengetuk kesadaran
Cinta hanya sebatas impian masa muda
Sedikit birahi sebagai bumbu
Ketika senja telah condong ke Barat
Hanya sayang dan perhatian diharap
Mengusir sepi dari rumah kenangan
Saling menjaga dari yang ke tiga. Bosan!.
Sambil memandang mozaik agar tetap cemerlang
Sahabat.
Saling bertaut membentuk mozaik
Disulam penuh warna bahagia
Sudutnya dikuatkan jalinan cemburu
Gambarnya diarsir bernuansa jambon
Di ruang berdimensi romantis
Jika sinar mata menyoroti
Bayang cinta adalah kompromi
Termaktub jelas di segenap hati
Lukisan tiada sempurna tanpa amarah
Sejumput pemanis di sana
Serumpun menyemak di pikiran
Malam menjadi obatnya
Kadang hanya bisik bibir mengungkap
Saling berpelukan menguatkan jalinan
Waktu sebagai tera nilai lukisan
Menjadikan cemerlang bahkan buram
Sebab rahasia ditambahkan
Sentuhan lembut di kulit
Ucapan manis bunga kata
Perhatian kecil di saat tak duga
Sebutan mesra di tiap papas
Pandangan berbinar pipi merona
Mengusap lukisan jadi kilap
Waktu yang panjang mengetuk kesadaran
Cinta hanya sebatas impian masa muda
Sedikit birahi sebagai bumbu
Ketika senja telah condong ke Barat
Hanya sayang dan perhatian diharap
Mengusir sepi dari rumah kenangan
Saling menjaga dari yang ke tiga. Bosan!.
Sambil memandang mozaik agar tetap cemerlang
Sahabat.
Jumat, 08 Februari 2019
BINTANG (Revisi)
Kedip jalan panjang menuju iris
Arungi waktu lurus tak putus
Lintasi gelap kosong semesta kosmis
Melesat jauhi singularitas
Bertemu hujan jadi selendang bidadari
Lewati gelap berubah kunang-kunang
Bertemu hutan jadi hamparan permadani
Menembus cermin membentuk titik api
Kerlip mengantar gelombang pada titik
Menerobos lensa dan terperangkap di benak
Mengirim sinyal pada kesadaran bijak
Itulah bintang yang bertaut jarak
Arungi waktu lurus tak putus
Lintasi gelap kosong semesta kosmis
Melesat jauhi singularitas
Bertemu hujan jadi selendang bidadari
Lewati gelap berubah kunang-kunang
Bertemu hutan jadi hamparan permadani
Menembus cermin membentuk titik api
Kerlip mengantar gelombang pada titik
Menerobos lensa dan terperangkap di benak
Mengirim sinyal pada kesadaran bijak
Itulah bintang yang bertaut jarak
SESUATU TENTANG CINTA
Sejenak rindu tutupi akal sehat
Semesta menciut jadi sekadar cemburu
Rentang harga bagi asmara
Ketika cita menggantang tinggi
Mengambil tak dapat meraih
Memberi tak kuasa menolak
Air mata memberi kabar
Meredam segenap syak wasangka
Menuangnya hingga emosi
Serpihan musim berganti
Sepenggal kenangan berlalu
Seraut wajah menggadangi senja
Semesta menciut jadi sekadar cemburu
Rentang harga bagi asmara
Ketika cita menggantang tinggi
Mengambil tak dapat meraih
Memberi tak kuasa menolak
Air mata memberi kabar
Meredam segenap syak wasangka
Menuangnya hingga emosi
Serpihan musim berganti
Sepenggal kenangan berlalu
Seraut wajah menggadangi senja
Rabu, 06 Februari 2019
BINTANG
Kedip adalah perjalanan panjang menuju iris
Mengarungi waktu yang lurus tak putus
Melintasi gelap dan kosong semesta kosmis
Melesat menjauhi singularitas
Bertemu hujan menjadi selendang bidadari
Melewati gelap berubah kunang-kunang
Bertemu hutan menjadi hamparan permadani
Menembus cermin membentuk titik api
Kerlip mengantar gelombang pada titik
Menerobos lensa dan terperangkap di benak
Mengirim sinyal pada kesadaran bijak
Itulah bintang yang bertaut jarak
Mengarungi waktu yang lurus tak putus
Melintasi gelap dan kosong semesta kosmis
Melesat menjauhi singularitas
Bertemu hujan menjadi selendang bidadari
Melewati gelap berubah kunang-kunang
Bertemu hutan menjadi hamparan permadani
Menembus cermin membentuk titik api
Kerlip mengantar gelombang pada titik
Menerobos lensa dan terperangkap di benak
Mengirim sinyal pada kesadaran bijak
Itulah bintang yang bertaut jarak
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...