Rabu, 10 Juli 2019

GARASI

Garasi serupa perut ibu mengandung
Hangatnya bercampur bau oli bekas
Kendaraan diam di remang lampu
Istirahat setelah mengukur jarak

Pintu, penyekat dan penjaga garba
Jalan lahir menuju dunia ramai
Pemisah antara rahim dan jagad fana
Engselnya berkarat karena sering mengangkang

Lantainya berwarna bata kusam
Ada jejak motif ban terpotong di pintu
Ceceran oli seperti bercak pendarahan
Menetes dari nadi di perut

Kadang cicak berkejaran rebutan wilayah
Di plafon, lampu mengedip genit
Merayu dan mengundang serangga datang
Kesanalah cicak menuju makan malamnya

Minggu, 07 Juli 2019

LAMPU TAMAN

Di tiang tertinggi malam kemarau
Lampu berpendar bahagia
Berbagi cahaya kunang-kunang
Menjamah ramah segenap daun
Yang tunduk sebab kantuk

Kamasutra birahi serangga
Habiskan remang dengan tarian cinta
Pamer elok dan merebut perhatian
Hingga tersisa sang juara pongah
Membuahi betina yang siap menyantapnya

Lampu taman serupa altar pengorbanan
Di bawahnya berserak putus asa
Para ronin terbang mengejar cahaya
Dengan laku brahmana kesatria
Membenturkan tubuh pada lampu

Ketika terang tanah telah bumi
Segenap cahaya lampu mengerut
Terpenjara dalam sempit bohlam
Perlahan pendarnya sekarat
Dilibas oleh senyum mentari pagi

Jumat, 05 Juli 2019

KAMAR ANAK

Adalah keceriaan yang coba dilukis di tembok
Dengan warna warni yang tersenyum manis
Peraduannya memeluk hangat tiap lelap
Dengan motif dongeng bunda sebelum tidur

Adalah ruang mimpi dimana bertualang ada di setiap nafas
Mendaki perbukitan fantasi dengan tangga pelangi
Berburu mengendap dan menembaki kawanan binatang eksotis
Menyapih lelah di bawah tenda selimut bergaris

Adalah tempat tumbuh segenap benih khayal
Menyiramnya dengan bacaan juga kasih sayang yang membuncah
Menjadi pokok pohon yang mengait langit
Dan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu goliath berwarna cerah

TAMAN KECIL BELAKANG RUMAH

Kumbang kerap datang dan kecewa
Hanya warna daun yang menyapa
Sedikit rumput teki meranggas

Kerikil kecil mengepung jalan setapak Membelah taman serupa garis rambut
Ujungnya tenggelam di kolam kecil

Suasana temaram teraling tembok
Halangi mentari menjamah sudut
Langsung lompati terik duduki sore

Bertelekan batu menatap dedaunan
Menghirup kopi beraroma kacang
Senja perlahan menutupi taman

Rabu, 03 Juli 2019

TELEVISI MENYALA SEMALAMAN

Gemerisik suara melompat dari televisi
Tiada menegur cecak yang berkejaran
Cahayanya silaukan ruang malam
Dan adik tertidur di sofa merangkul mimpi

Ketika gambar lenyap garis dan titik
Adik menguap meregang kantuk
Berjalan gontai menuju tombol mati
Mengunci pintu dan lanjutkan tidur

Senin, 01 Juli 2019

MENANTI DI STASIUN

Bangku besi dan calon penumpang
Jam menatap kereta kan tiba
Langit-langit tinggi hingga kejauhan
Mengejar awan berarak

Rel masih lintasi stasiun
Mengantar rindu hingga horizon
Pegawai menatap lewat pintu
Lokomotif mendengus menyibak

Kereta berhenti dan menanti
Gerbongnya berderet panjang
Kepala stasiun meniup peluit
Kereta bergerak tinggalkan pengiring

PIANO

Piano telah lama senyap
Bilahnya lupa cara menabuh
Senarnya kaku membisu

Taplaknya beludru pudar
Memajang foto-foto tua
Dan kisah yang berdebu

Dahulu jemari kerap menari
Berlompatan dan berdenting
Menyusuri tuts dan bernyanyi

Not berdesakan antri berbunyi
Tangan dan mata membaca irama
Musik mengalun memadati ruang

Beberapa piala menyumbang prestasi
Sebab kerja keras tekun berlatih
Dan piano memajangnya. Bangga

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...