Sabtu, 20 Juli 2019

IBU SEDANG MENJAHIT

Punggungmu menunduk bungkuk
Menanggung mata yang mulai katarak
Kacamata pun tak kuasa membantu
Sebab hanya jarak yang membedakan warna

Tangan itu, tangan yang pernah menggendong dengan kasih
Membelai kantuk hingga bersua mimpi
Gemetar meluruskan kain dengan benang
Jarinya menatap jarum yang menghujam

Dulu kakimu pusat tenaga penggerak rejeki
Dari kayuhmu receh gemerincing di dompet tua bercap toko mas
Ketika listrik dipaksa masuki desa sebagai politik etis
Tinggal encok dan varises tersisa di kedua kaki

Pagi, setelah bersih dan rapi ibu menghadap mesin jahit
Menanti hantaran kain dengan segala aksesoris
Yang tiba serupa kecilkan pinggang atau menambal robek
Sisa hari hanya menggantang angin

Jumat, 19 Juli 2019

KAMAR BELAKANG

Muara segala dosa berlabuh
Serpihan kaca berserak
Potongan kayu tergeletak
Kardus terikat di sudut
Bangkai elektronik mengonggok
Tumpukan koran terpuruk

Sawang di para-para
Sawang di kabel lampu
Sawang di atas sawang

Kaca jendela telah lama buram
Engselnya berkarat sebab diam
Sepotong pecahan kaca dan sisir
Rebah menumpuk di kusen
Paku menancap dalam
Menggantung kemoceng dan sapu

Gudang hanya debu dan apek
Lampunya menyala serupa picing mata
Semua dosa lebur jadi sampah

Rabu, 17 Juli 2019

KISAH REMOTE

Remote tergeletak di meja
Angkanya pudar ditindas jemari
Seikat karet gelang mengikat erat tubuhnya
Serupa sabuk di pinggang yang ramping

Di meja ada toples kudapan
Isinya separuh karena sering dirogoh
Remahnya berserak di taplak
Disekitar remote yang diam menunggu

Remote dijamah tombol ditekan
Saluran tiada berubah
Remote dipukulkan di sisi meja
Tombol ditekan siaran berganti

Menatap tivi dari kursi dikejauhan
Adegan berganti adegan
Ketika iklan selingi cerita
Remote diambil jari menekan

Senin, 15 Juli 2019

MATAHARI SIANG

Siang ini matahari tepat di sasaran
Sinarnya masuk ke relung pucuk daun
Di taman nenek yang tak mau menepi
Warnanya adalah hijau terpapar silau kuning

Pohon teh-tehan yang jadi pembatas dunia luar
Daunnya berbaris rapi dipangkas gunting
Menghirup rakus setiap helai sinar yang mendatangi
Menghalangi penetrasi angin dan debu kemarau

Kadang burung uluk salam dan mampir istirahat
Di dahan yang memanggul dedaunan
Bulu sayap dan ekor dipatuk dan dirapikan
Persiapan terbang kembali membawa rejeki ke sarang

Siang kembali berjingkat menuju barat
Daun pun menoleh ikuti segenap edar
Taman tetap diam menjaga beranda
Daunnya yang tua luruh bersatu dengan tanah


SANDAL

Sandal jepit takzim di depan pintu
Tubuhnya dilingkupi debu perjalanan
Tiada berani mengintip ke dalam rumah
Sekadar menyapa kaki pun malu

Sandal jepit saling menatap mafhum
Di telapaknya jejak langkah sejarah
Serupa prasasti ukir pujangga
Ada duri dan lekuk kerikil disitu

Sandal jepit pudar dan kusam
Digosok waktu dan aspal jalan
Mulai ringkih sebab dera
Namun ulet akibat membaca langkah

Jumat, 12 Juli 2019

MENGALIR

Musim datang dan pergi
Melepas beban tanpa permisi
Dihempas angin barat
Hingga basah berkarat
Diterpa kering menggigil
Bunting kembang kantil

Air memancar di lubuk
Perlahan mengisi ceruk
Mengalir lewati selokan
Membentur batu berserak
Hanyut bersama lumpur
Tanah genting muara laut


AKU MENGINAP SEMALAM

Aku menginap semalam
Di sofa depan tivi
Lampunya temaram
Dan nyamuk berdenging
Isi kepala kuletakkan
Di bantal segi empat
Sedang tubuh rebah
Menghempas lelah
Jendela sedikit menganga
Angin melambaikan tirai
Sebagian berhembus lembut
Menyapa kantuk dan semilir
Wajah kualihkan
Menghadang gelap di depan tivi
Tubuhpun mengikuti
Menghadap tengah ruang
Sekian waktu lewat
Malam kian ramai
Suara cicak berkejaran
Tikus berlari di sudut
Pikiran yang terus ngoceh sendiri
Teng... teng... teng...
Tiga kali pertanda larut
Mataku perih dan membelalak
Ku duduk lalu mengambil gadget
Aku menginap semalam di rumahmu

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...