Hari ini aku lapar sekali
Tausiah pagi tidak mengurangi
Ditambah dahaga lagi
Padahal kantuk masih menyimpan sihirnya
Berita pagi dipotong dan disajikan
Dibumbui senyum manis
Bau pesing kamar mandi
Sebagai kudapan menanti sego pasar
Dari dapur datang kopi tubruk beraroma gosip
Si mbok berkain kebaya dengan nampan
Mulutnya penuh mengunyah sirih bako
Dan sepiring ubi rebus
Nasi pincuk dan segala kemesuman pasar
Satu kaki naik menopang lapar
Dikecapnya segala kerakusan. Jasmani dan rohani
Dan perut terisi sumpah serapah
Kamis, 02 April 2020
Rabu, 01 April 2020
DI RUANG TENGAH
Ruang itu selalu hangat
Pertemuan celoteh dan sinar matahari
Siang yang panas kopi tubruk
Dan malam birahi sunyi
Meja kursi beralih fungsi
Remahan makanan dan ucapan
Adik ngompol di lantai
Televisi muntahkan iklan
Gosip sebagai nyawa ruangan
Dosanya dikunyah bersama
Ada keriaan di hati semua
Sebab kita lebih benar dari sekedar ucapan
Lalat membawa masuk siang yang terik
Juga bau sampah yang menggigit
Angin mempersembahkannya
Sebab dia adalah satu kandungan
Semua kata dan emosi yang memenuhi ruang
Juga kehangatan tarikan nafas
Keluar bebas menemui udara
Mengalir lewat lubang ventilasi
Ketika malam telah lelah
Ketika hanya ada berburu dan diburu
Tangan menepuk semua
Cicak makan dengan lahap
Ah, tegukan kopi terakhir
Bercampur dengan sedikit ampas di tenggorokan
Ruang tengah telah sendiri lagi
Kumatikan lampu kunyalakan mimpi
Pertemuan celoteh dan sinar matahari
Siang yang panas kopi tubruk
Dan malam birahi sunyi
Meja kursi beralih fungsi
Remahan makanan dan ucapan
Adik ngompol di lantai
Televisi muntahkan iklan
Gosip sebagai nyawa ruangan
Dosanya dikunyah bersama
Ada keriaan di hati semua
Sebab kita lebih benar dari sekedar ucapan
Lalat membawa masuk siang yang terik
Juga bau sampah yang menggigit
Angin mempersembahkannya
Sebab dia adalah satu kandungan
Semua kata dan emosi yang memenuhi ruang
Juga kehangatan tarikan nafas
Keluar bebas menemui udara
Mengalir lewat lubang ventilasi
Ketika malam telah lelah
Ketika hanya ada berburu dan diburu
Tangan menepuk semua
Cicak makan dengan lahap
Ah, tegukan kopi terakhir
Bercampur dengan sedikit ampas di tenggorokan
Ruang tengah telah sendiri lagi
Kumatikan lampu kunyalakan mimpi
Selasa, 31 Maret 2020
KHAWATIR
Dia berdiri dalam remang
Matanya nyalang
Memandang kejauhan dari balik jendela
Napasnya mengembun di kaca
Di luar, horizon tampak temaram
Angin menyibak dedaunan dan mendesis
Hujan akan datang
Halilintar menyobek tirai langit
Gemuruh suaranya
Air berjatuhan dari sela-selanya
Miring tertiup angin
Kaca dipenuhi tetesan hingga buram
Matanya nanar
Mencoba mengurai kelabu abu
Dia tetap diam menatap
Menanti abah pulang dari sawah
Matanya nyalang
Memandang kejauhan dari balik jendela
Napasnya mengembun di kaca
Di luar, horizon tampak temaram
Angin menyibak dedaunan dan mendesis
Hujan akan datang
Halilintar menyobek tirai langit
Gemuruh suaranya
Air berjatuhan dari sela-selanya
Miring tertiup angin
Kaca dipenuhi tetesan hingga buram
Matanya nanar
Mencoba mengurai kelabu abu
Dia tetap diam menatap
Menanti abah pulang dari sawah
Jumat, 27 Maret 2020
DAUN JATUH
Selembar daun jatuh tertiup angin
Warnanya tua terkulai di bumi
Tatapnya nanar silau mentari
Tulangnya rapuh terpuruk sendiri
Sekejap lepas memutus ari-ari
Daun lapuk didera waktu
Tubuhnya rebah menghitung hari
Punggungnya bungkuk menanggung rindu
Daun jatuh dimana tanah dipijak
Tergelincir dalam lembab
Perlahan busuk menjadi humus
Bersama ibu bumi menjadi musim semi
Warnanya tua terkulai di bumi
Tatapnya nanar silau mentari
Tulangnya rapuh terpuruk sendiri
Sekejap lepas memutus ari-ari
Daun lapuk didera waktu
Tubuhnya rebah menghitung hari
Punggungnya bungkuk menanggung rindu
Daun jatuh dimana tanah dipijak
Tergelincir dalam lembab
Perlahan busuk menjadi humus
Bersama ibu bumi menjadi musim semi
PAGEBLUG
Musim memamah bumi lara
Rasanya sedikit asin air mata
Jubah kelamnya malaikat maut
Sendirian tanpa bintang utara
Seperti mendung yang menggantung
Runtuh menangisi kepedihan
Semua dilewatinya
Sisanya hanya sakit yang sekarat
Kehilangan yang abadi
Dan cerita yang jauh
Rasanya sedikit asin air mata
Jubah kelamnya malaikat maut
Sendirian tanpa bintang utara
Seperti mendung yang menggantung
Runtuh menangisi kepedihan
Semua dilewatinya
Sisanya hanya sakit yang sekarat
Kehilangan yang abadi
Dan cerita yang jauh
Selasa, 24 Maret 2020
KANGEN
Kangen mengotori pikiranku dengan dirimu
Wajahmu manis bulu domba. Lembut
Melayang di pelupuk
Seperti noktah tinta di kertas buram
Semua tentangmu terserap kering dalam ingatan
Terkadang aku mencoba menepis bayanganmu
Kupejamkan mata agar hilang dalam gelap
Yang terpampang hanyalah lekuk tubuhmu lengkap dengan ketelanjangan
Satu ketika kukorek abu sisa cemburu dengan telunjuk
Debunya naik ke langit-langit kamar
Menempel di sawang yang telah kotor jelaga
Kemudian menjadi fragmen-fragmen persinggungan ego kita
Menggiring semua tingkahmu menjadi rindu
Seperti remahan kue kering yang manis
Semua diperebutkan semut. Hitam maupun putih
Dikumpulkan jarahan dalam satu lumbung
Ditimbun lama di dasar intuisi
Hingga menguatkan aroma dan rasa
Wajahmu manis bulu domba. Lembut
Melayang di pelupuk
Seperti noktah tinta di kertas buram
Semua tentangmu terserap kering dalam ingatan
Terkadang aku mencoba menepis bayanganmu
Kupejamkan mata agar hilang dalam gelap
Yang terpampang hanyalah lekuk tubuhmu lengkap dengan ketelanjangan
Satu ketika kukorek abu sisa cemburu dengan telunjuk
Debunya naik ke langit-langit kamar
Menempel di sawang yang telah kotor jelaga
Kemudian menjadi fragmen-fragmen persinggungan ego kita
Menggiring semua tingkahmu menjadi rindu
Seperti remahan kue kering yang manis
Semua diperebutkan semut. Hitam maupun putih
Dikumpulkan jarahan dalam satu lumbung
Ditimbun lama di dasar intuisi
Hingga menguatkan aroma dan rasa
Senin, 23 Maret 2020
HOBI
Aku terperosok secara sadar
Ruang dan waktu menyandera
Akalku kian sempit
Dan mata merah nyalang
Seperti mengejar bayangan
Kegilaan merasuki setiap syaraf
Tak ada peduli atau tidak
Letih adalah kesalahan yang berulang
Konsentrasi serupa api tempa
Membesar ketika udara memuai
Asapnya memenuhi ruang
Mengepung hati sunyi
Setelah penyangkalan dan halusinasi
Sarang yang nyaman
Tiba-tiba kesadaran tergugah
Dan kita tetap bukan apa-apa
Ruang dan waktu menyandera
Akalku kian sempit
Dan mata merah nyalang
Seperti mengejar bayangan
Kegilaan merasuki setiap syaraf
Tak ada peduli atau tidak
Letih adalah kesalahan yang berulang
Konsentrasi serupa api tempa
Membesar ketika udara memuai
Asapnya memenuhi ruang
Mengepung hati sunyi
Setelah penyangkalan dan halusinasi
Sarang yang nyaman
Tiba-tiba kesadaran tergugah
Dan kita tetap bukan apa-apa
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...