Selasa, 04 Agustus 2020

CAHAYA

Ketika cahaya beradu cahaya
Sinarnya muram dihadapan mata
Serupa batu jatuh ke dalam kolam

Silau cahaya hendaknya disaring
Pisahkan lembut dari terik menggigit
Serupa tepung kue diayak

Bermandi cahaya menegaskan warna
Merah kian gagah dan putih berupaya suci
Serupa hijau menyamar rumput daun

Eksistensi cahaya adalah angin
Geraknya meninggalkan bayangan
Serupa kakang kawah adik ari-ari

IDOLA

Seperti parasit membunuh inangnya
Tentakelnya menghujam
Merubah cinta menjadi imitasi

Tingkahnya sebagai fatwa
Tiada sanggah
Taklid buta bagi jiwa lata

Di bawah siraman lampu
Semua ekstase
Bergerak liar ikuti suluk

Sambil menangis histeris
Menatap takjub
Bersama memuncaki orgasme

Senin, 03 Agustus 2020

SEPI

Ternyata sepi bukan hanya hak milik sunyi
Nyatanya siang pun mempunyai andil
Matahari menyengat dan angin berdesir
Bendera sendirian di atas tiang, melambai

Rumah-rumah hanya diam
Terpenjara di balik pagar
Pintu dan jendela berteduh 
Di bawah pohon tiada terik

Ternyata sepi menggiring burung bercinta
Di atas genting mereka menari tentang merah
Setelah bertukar birahi puja
Mereka mengepak sayap, terbang berlawanan arah

Jalan depan rumah menyimpan sepi
Sebab panas mengendap hingga mata kaki
Tetap saja kendaraan melewati
Menyibak siang agar menepi

Ternyata sepi miliki suaranya sendiri
Daun beradu punggung dan gemerisik
Ah, tonggeret yang sembunyi
Berteriak memecah sunyi

Jika sepi akhirnya pergi
Anak-anak bersepeda dan berlari
Bayi digendong jarit dan disuapi
Dan matahari tersenyum jingga

Minggu, 02 Agustus 2020

LAUT BIRU LANGIT BIRU

In memoriam A.R.

Laut dan langit
Dipisahkan oleh puisi dan dongeng
Ditulis di lembar yang terjaga
Untuk mata yang lapar dahaga

Biru
Adalah warna puisi dan dongeng
Tinta yang digores di lembar yang terjaga

Laut biru
Bahasa puisi yang dongeng
Langit biru
Kata yang menyulam dongeng nan puisi

Laut biru langit biru
Birunya sastra tulis

Sabtu, 01 Agustus 2020

JEMARI

Jempol tak pernah menindas
Bijaknya serupa burung hantu
Ketika telunjuk menuding
Dirangkulnya jari lain
Melindungi dari fitnah

Jempol tiada iri dengki
Hanya gemuk dan hangat
Jari manis biasa diikat emas
Kadang penengahpun dililit
Ia puas dengan kuku panjang yang rapi

Jempol adalah motivasi
Kelingking rendah diri
Sebab kurus kering
Ia tampil tanpa sangsi
Pendek gemuk dan bahagia

DESAKU BERUBAH

Dahulu, lewat tengah malam
Orang mengangkat rejeki di bahu
Dari gunung ke hari pasar
Melangkah beriring 
Laki dan perempuan
Diterangi oncor 
Cahayanya goyang sebab angin

Kini, rejeki dijemput seluruh
Tak kenal siang malam
Tiada hari pasar digelar
Kebutuhan datang sendiri
Menawarkan dirinya terbungkuk
Sedangkan jarak hitungan detik
Datang dan pergi

HELLO AUGUST MY OLD FRIEND

Kau selalu datang saat kemarau merekah
Diantara malam dingin menggigit
Dan siang terik kerontang

Kembang turi putih dan merah
Serupa kuku pancanaka terbalik
Kontras dengan hijau daun

Mangga di depan rumah telah pentil
Bertahan melawan tiupan angin
Bergelantungan di ujung ranting

Di hari-harimu segenap merayakan kehidupan
Di akhirnya, singgahmu menyapa dan pamit
Berdoa untuk bersua di tahun berganti

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...