Senin, 05 Oktober 2020

PERINGATAN

Peringatan menaikkan sang saka
Di tiang tertinggi setiap rumah
Berkibar gagah mewartakan sejarah

Merah sebagai darah pahlawan
Putih warna musim pancaroba
Dan air mata haru jiwa

Media gigih mewawancarai berita
Upacara masuk ke siaran pagi
Rakyat tetap mengais rejeki

Minggu, 04 Oktober 2020

PANCAROBA

Matahari dan hujan berebut pengaruh di atas genteng rumah
Dikirimnya angin sebagai pengintai
Lalu teriknya memprovokasi hingga peluh

Mendung mengirim awan hitam mengepung cakrawala
Serupa parasut, bergumpal, memenuhi udara
Dan sedikit gerimis sebagai pelopor

Sekian waktu dalam ketegangan pancaroba
Bergantian melontarkan perang urat syaraf
Di dalam rumah hanya ada sumuk

Akhirnya serangan dimulai
Dengan bantuan siang kering dan sore kerontang
Mendung dihalau dari pekarangan

Sabtu, 03 Oktober 2020

BANGUN

Weker berteriak menjerit mengetuk
Aku langsung dicampakkan dari mimpi
Nyawaku masih bertebaran. Belum genap
Tubuhku tak menuruti kata hati
Hanya tangan yang otomatis menjangkau

Semalaman kopi menyandera mata
Tiada kantuk menghampiri
Ditemani musik dan buku
Kugadangi malam renta kemarau
Kokok ayam pun tak kuindahkan

Ketika fajar sidik di ufuk
Tubuh berbaring mencoba berdamai dengan kantuk
Antara ada dan tiada
Tiba-tiba weker berteriak menjerit mengetuk
Otakku terburai dan mimpiku tercerai berai

MUSIM, DATANG DAN PERGI

Musim hujan terlambat datang
Dengan sedikit rasa bersalah ia menggamit  kemarau
Dan menancapkan awan hitam di puncak
Lalu lewat bantuan angin sepoi
Dijatuhkannya tetesan rindu pertama

Bumi lara menghirup segenap rintik
Menghilangkan dahaga dan rekah tanah
Pepohonan yang merana terbungkus debu
Manyirami setiap daun dan rantingnya
Dan merias tubuhnya dengan warna yang sumringah

Maka ibu bumi tersenyum bahagia
Tubuhnya wangi tanah basah
Dari rahimnya lahir aneka tunas
Hijau daun dan bunga beraroma madu
Kupu-kupu keluar dari kepompongnya

Jumat, 02 Oktober 2020

DOLAN

Keriangan perlahan menjalar
Kaki-kaki kecil berlari
Sumringah hingga keringat

Mereka berceloteh ramai
Seperti prenjak bernyanyi
Di beranda angin

Daun kering berterbangan
Tangan-tangan mengejar barat
Menangkap gelak tawa

Saat duduk di tangga siang
Sambil sibuk mengenyam lelah
Mereka bertukar pamer kasih ibu

Kaki telah ringan tangan melenggang
Hati telah pulang ke rumah
Matahari tersenyum

KAIN

Matanya mengikuti canting menggores
Digambarnya cinta dengan sepenuh lilin
Setiap lekuk segenap pola senyawa hati
Dibentangnya kain sebagai kehidupan

Prihatin lelaku batin
Ngalap cipta rasa
Warna coklat sebagai bumi
Dan motif perlambang karsa

Ketika kain telah batik
Keindahan menjadi klasik
Di setiap wiron melati puja
Di sudut simpan kantil kuning

Kamis, 01 Oktober 2020

TURI DI JALAN DESA

Turi menari angin
Telanjang di pinggir jalan
Menegur ramah setiap kendaraan

Daun kelupas kuning
Berjatuhan di bahu jalan
Kering di sekujur ranting

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...