Sabtu, 07 November 2020

HAWA

Amarah itu daun kering yang tersulut api
Dimana semua argumen benar adanya

Berganti topeng, kesal berganti

Sekat tipis antara cinta dan benci
Rapuh, mudah hilang tertiup angin

Berganti topeng, sesal berganti

Situasi yang tiba-tiba asing
Saling menghindar
Komunikasi terbata
Pendek dan likat

Maaf adalah mantra panglimunan
Hilang topeng, luruh menanti

Jumat, 06 November 2020

SAWAH

Masih ingatkah engkau akan sawah
Ketika gagal panen dan wereng mengusir kita ke lorong kumuh kota

Masih ingatkah engkau akan sawah
Lampu di gang sempit, pojok untuk tawar menawar, memperjualbelikan dosa

Masih ingatkan engkau akan sawah
Dimana tani utun menanam batuan dan menindasnya dengan semen hingga tumbuh menjadi bangunan bertingkat

Masih ingatkah engkau akan sawah
Kupu-kupu jua keluar malam menawarkan pupur murahan dan hisapan satu dua kretek ketengan sebagai pengganti gagal panen

Masih ingatkah engkau akan sawah
Taman-taman kemarau yang semaknya kering, tempat melepas syahwat setelah menikmati semangkuk bakso

Masih ingatkah engkau akan sawah
Galengannya mengirim air ke sudut-sudut kota sehingga menenggelamkannya menjadi kubangan sampah

Masih ingatkah engkau akan sawah
Bu tani menjajakan malam dengan secangkir kopi dan piring-piring penuh berisi jajanan dingin di atas meja purnama

Masih ingatkah engkau akan sawah
Panen terakhir dengan ani-ani di tangan dan matahari menyengat panasnya sehingga keringat membasahi 

Masih ingatkah engkau akan sawah
Tempat angon mimpi-mimpi kita setelah ngarit rumput untuk mengisi bumbung 
tabungan di sentong

Masih ingatkah engkau akan sawah
Dengan membaca langit dan bintang kita mulai menyemai harapan dan menjaganya penuh sabar penuh waktu

Masih ingatkah engkau akan sawah
Tembok tinggi yang memisahkan kita dari tanah leluhur yang telah kita tukar dengan sembako dan sedikit receh

Masih ingatkah engkau akan sawah
Tanah dimana kita masih punya ikatan dengan moyang dengan ibu bumi dengan adat dengan budaya dengan tetangga

Masih ingatkah engkau akan sawah, sahabat? 

Rabu, 04 November 2020

MENUNGGU MAGHRIB

Suara di kepalaku terasa gairah
Menyanggong maghrib bedug ditalu
Temaram teja menyandingi
Segelas es teh cukup membandingi

Tapi, sepiring nasi dengan lauk lapar
Harga yang pantas untuk membayar
Demikian suara bertengkar
Dan tubuh tetap diam terkapar

Saat magrib telah adzan di desa
Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthortu, bisik hati
Segelas air putih membasahi tenggorokan
Dan segelas lagi mengisi perut kosong

KERIUHAN DI WAKTU MALAM

Suara paling ramai itu
Ketika otak berbicara bersahutan
Ketika lembar ingatan pawai
Ketika peristiwa melintas berkelebat
Ketika aku berbantahan sendiri
Ketika hitungan dari satu hingga membosankan
Ketika semua doa kian menjauh

Suara paling ramai itu
Ketika mata terpejam
Ketika nyamuk mendenging di kuping
Ketika keringat 
Ketika tubuh diam
Ketika jam berdentang tiga kali
Ketika itu aku dikamar, sendiri

Selasa, 03 November 2020

MAAF, KU TAK DAPAT MENGANTARMU

Dikarenakan kepergianmu yang tiba-tiba
Aku tak membawa cukup air mata

Kabar tentangmu datang dengan cepat
Karena kepedihan membawanya lewat duka. Tercekat
Tiba ke haribaanku dengan isak yang kumal

Aku terpana di kursi kayu
Dunia seperti berhenti berputar
Segenap gundah di kepala
Semua cemas berkalang hati
Serta merta menjadi kepastian

Dengan sisa kata yang masih kusimpan
Kularung doa untuk menemani perjalananmu menuju padang perburuan abadi

Senin, 02 November 2020

CEMAS

Cemasku membuntuti sepanjang jalan tol
Dengan sedikit terbata kusisipkan doa
Sejauh waktu tempuh, 
pikiran dan hatiku tak juga padu

Semua nasib buruk menampakkan wajahnya
Mengganggu kantuk dengan riuh
Aku hanya tergolek menatap langit-langit
Dan keringat basahi bantal guling

Di luar langit hitam
Hujan pitam
Lampu padam

Suara dering HP mengalun
Di layar tertulis, "aku sudah sampai"
Hatiku berdamai dengan cemas

Minggu, 01 November 2020

SATU KETIKA

Bermalasan memandangi mendung
Jendelapun ikut murung
Mendung balas memandang
Dan langit kian tebal terselubung

Posisi duduk kuperbaiki
Agar angin mudah berbisik
Ia datang membawa sepercik air
Selembar daun jatuh dan seikat dingin

Mendung merasa likat
Karena mataku terus menatap
Akhirnya air ditumpahkan bah
Ke pohon ke bumi ke jendela

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...