Jumat, 06 Januari 2023

LOMBA

Kita berusaha mengejar waktu
Mencoba untuk menaklukkannya
Dengan segala daya upaya
Darah, keringat dan air mata

Sementara waktu terus melesat
Kita terbata membaca tandanya
Semakin terburu-buru kita menggapai
Semakin jauh tertinggal dari angan

Ketika kita berhenti sejenak, beristirahat
Dari titik ini, mencoba menoleh ke belakang
Jalan yang dilewati memang terjal
Sedangkan waktu tergantung di awang-awang

Rabu, 04 Januari 2023

SANGGUL!!!

Rambut hitamnya minyak kemiri
Lebat melewati bahu, 
menyentuh pinggang
Anak rambutnya kadang memain ditiup angin

Di wajahnya yang kuaci, 
segaris senyum ibu
Rambut melintasi matanya, 
serta menutupi pipi yang ranum

Di depan cermin ia menatap
Rambutnya disisir rapi
Dengan cekatan lalu digelung
Dijadikan sanggul

Selasa, 03 Januari 2023

DI TEPINYA KAFE!!!

Meja kursi merangkum keriangan, di ruang bincang yang hangat
Makan dan minum, serta warna warni pelangi

Sepasang kekasih memadu cinta
Meronce diam hingga waktu
Tiada kata sebagai hidangan
Hanya bahagia sebentuk senyum

Di pojok, tempat rindu yang hening, sinar lampu meremang
Secangkir kopi dituang, baunya menyengat hidung

Keramaian memadati ruang
Gelak tawa berderai
Dan kafe menggadangi malam yang renta

Senin, 02 Januari 2023

SANDYAKALA 2

Rambutnya nyata kembang jambu
Didera usia hingga semburat senja
Sedangkan punggung telah bungkuk
Menenggang beban serta

Ingatannya seperti angin lalu
Berhembus antara ada dan tiada
Semilirnya meninabobokan
Sebagai mimpi di siang bolong

Terkadang ia menatap ke depan 
Campuran antara harap dan cemas
Dilain ketika berserah pasrah
Namun semua senyap ditelan masa

Minggu, 01 Januari 2023

KAU, AKU DAN MALAM PERGANTIAN

I. KAU

Sofa itu merah marong
Kontras dengan kulitmu 
Kuning temu giring

Kau duduk dengan anggun
Ditanganmu segelas anggur
Dan setangkup kenangan

Suara musik lembut mengalun
Menghadirkan ingatan dari masa lalu
Dan menemani diammu

Di luar kembang api pecah bagai ratna
Berwarna pelangi 
Dan tersingkir dari sunyinya hati

II. AKU

Aku memandang dari balik jendela muram
Langit terlihat jauh dan berwarna kusam
Hanya lampu jalan yang menerangi
Dan kucing kampung berpesta di onggokan sampah

Bulan separoh sabit di kaki langit
Sinarnya temaram
Seperti ingatan yang gundah
Ditinggal pergi, hilang bersama angin

Aku termangu menanti kembang api
Di benak hanya ada kau
Berdiri sendiri di gelap malam
Tanpa tegur jua sapa

III. MALAM PERGANTIAN

Di kerumunan malam yang riang
Semua tatapan tercurah ke atas panggung
Panggung dengan warna warni gairah
Dan lampu yang berkedip genit

Orang berdesakan
Bau parfum bercampur 
Laki perempuan berdiri berbaur
Beradu tubuh bermandi peluh

Nyanyian silih berganti
Tarian silih berganti
Teriakan silih berganti

Demi waktu dan lampu yang padam
Segenap meniup disertai sorak
Kembang api menembus gelap malam
Menyisakan asap dan lelatu api serupa ekor merak

Wajah-wajah memudar oleh lelah
Seluruh malam telah tumpah ruah
Satu dua masih menggadangi dini hari
Sisanya hanya didera senyap nan baka

Kerumunan silih berganti
Ramai silih berganti
Hingga tersisa sampah dan sepi

Selasa, 27 Desember 2022

TOKSIK

Bunda, 
kata-katamu menikam seperti sembilu
Sebagai lidah yang menetes darinya prasangka
Hingga menutupi pandang mataku dengan secarik dendam

Bunda, 
di dalam pikirku manjing seseorang
Seseorang yang menggenggam amarah luka
Seperti bara dalam sekam, ia membakar

Bunda, 
setelah porak poranda hati dan pikiranku
Ia membuang kunci ingatan
Ia bersemayam, namun bukanlah aku adanya

Bunda, 
tak perlulah kau mengasah gerammu dengan kata
Namun tajamnya kau lesakkan pada sanubariku
Hingga aku tercerai berai, mengecil kerdil sebagai debu

Selasa, 20 Desember 2022

HAUL

Berapa jarak darimu, 
hingga dapat menggapai daku
Dari hangat musim semi padang rumput, hingga gemintang langit timur
Serasa kau di sini menghampiriku

Kelahiran adalah sebuah keajaiban
Ditiupkan nyawanya pada hari ke empat puluh
Namun ibu bersedih sebab kasih karunia
Karena ia suci tanpa pernah disentuh

Diam dan isyaroh tak dapat memuaskan, hai saudarinya Harun
Dari buaian ia berucap membela
Malaikat menutupi langit dengan sayapnya
Menjadi saksi kelahiran anak manusia yang kudus

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...