Senin, 30 November 2020

CINTAKAH PADA USIA?

Pria. 
Seiring bertambahnya hitungan usia
Ketika birahi senja
Mamandangmu adalah kasih sayang

Wanita. 
Dengan bertambahnya helai uban
Dan perut yang kian membusung
Ada pesona hingga memuja

Pria.
Saat malam menjadi yang ketiga
Hanya syukur yang berbisik
Sebab teman adalah sehidup semati sejak pelaminan

Wanita. 
Dahulu disentuh adalah kewajiban
Tahun-tahun telah mengajarkan
Belaian selalu menanti ranjang pengantin

Pria. 
Senjakala rumah telah kosong dan sepi
Sebagai Mimi Mintuno genap mendampingi
Sigaran nyowo belahan hati

Wanita.
Segenap pengabdian yang waktu
Hati telah puja rindu
Selalu, terpesona adalah kayu bakarnya

Sabtu, 28 November 2020

MUSIM DAN PANDEMI

Hampir sepanjang kemarau matahari mencoba mengusir pandemi 
Dengan sinar, 
dengan panas, 
dengan angin kering, 
dengan keringat, 
dengan darah
Seiring pandemi terdesak, 
di rumah sakit, 
di cluster-cluster, 
di masker, 
di jarak, 
di berita tivi, 
di warung kopi, 
di perbincangan

Ketika rendeng telah basah 
oleh hujan, 
oleh mendung, 
oleh lembab
Masihkah musim mampu menghalau pandemi
Yang tidak tuntas, 
yang kerumunan, 
yang hilang jarak, 
yang dingin, 
yang awan, 
yang mutasi

Jumat, 27 November 2020

DALAM KEKUASAAN KITA PERCAYA

Semenjak kekuasaan bekerjasama melawan nasib
Baik dan buruk tercampur aduk
Bisa menjadi kiri dan radikal
Atau malah kanan ekstrim
Memang sesekali populis agar suara tetap dalam genggaman

Agama ageming ati nampaknya hanya slogan
Karena halal haram hilang keramat
Ketika semua telah jubah
Maka kekuasaan akan langgeng di atas angin

Kekuasaan memang mencari maqomnya sendiri
Seperti cahaya di kemaluan Dedes
Namun para penguasa membuat jalan pintas menuju wahyu
Dengan mengajarkan seluk beluk rahasia menjadi penguasa
Kepada keluarganya kepada trahnya

Kamis, 26 November 2020

MENGEJAR SEHAT HINGGA JAUH

Usia tak kuasa mengejar sehat
Dalam perjalanannya banyak halang rintang
Kadang terperosok dalam kubangan karena kebiasaan
Kadang jalannya mulus namun pendek

Sepanjang hidup kita berinvestasi
Dari buaian orang tua hingga biaya pemerintah
Namun sehat serupa bola liar
Sulit ditangkap oleh tangan nasib

Biaya kesehatan serupa deret ukur
Dibanding usia yang hanya deret hitung
Lipatannya lebih mencekik ketika gawat darurat
Walaupun akhirnya tetap kalah bertarung

DALAM SHOLAT

Setelah merapatkan barisan agar setan tak dapat menyelinap
Imam mengucap takbir

Alfatihah dalam hati, aamiin
Seberapa jauh venus? 
Mengapa ada nyamuk?
Shof depan miring
Kipas angin kok tidak dingin
Huuufff, masih lama, nggak ya?
Khusyuku mulai digerogoti bosan

Pulang nanti mencuci baju
Lantas sarapan
Ah, jagung belum dipupuk sebab rabuk hilang di pasar
Untung pupuk dasar sudah ditebar
Mungkin bisa pinjam dulu sama Pak lik

Waduh kok lama sekali imam bacanya
Bisa kesemutan kaki kalau begini
Mataku melirik ke depan
Ke pengimaman
Kepada akhir surat yang dinanti

Aaaaaamiiiiiiiiin...................... 
Barisan belakang barisan anak-anak
Keras seperti meneriaki maling

Lanjutannya, syukurlah surat pendek
Tapi cukup tidak, ya, uangnya untuk bayar buruh
Nanti habis sholat akan kutanyakan pada istri, apakah ia punya uang sisa belanja

Barisan ruku', memandang tempat sujud
Saling memandang
Hilang pandang karena meram
Tiada yang dipandang, tatapan kosong

Samiallahu liman hamidah...... 
Semua berdiri tegak
Tangan menggaruk selangkangan
Merapikan sarung
Diam sambil menatap imam yang juga diam
Kopiah diluruskan
Menatap sajadah
Memperhatikan barisan kaki yang tidak rapi

Bruuuuuukkkk....... 
Dengkul bertemu lantai
Semua sujud

O, ya, kang Pandi kan punya hutang
Mana dia baru panen
Kemarin dia kirim jagung satu truk
Berarti sehabis sholat langsung ke sana dulu, nagih
Moga-moga dibayar, kasihan sama istri kalau tabungannya dipecah

Sujud kedua terasa lama
Kepala sedikit pening
Hati menggerundel
Posisi makin tidak nyaman, dan
Allahu Akbar, imam takbir dan perlahan berdiri

............................... 

Ketika takhiyat akhir
Bacaan telah habis
Makmum memandang pada imam
Menanti salam
Jari kaki telah kaku
Telunjuk menunduk
Gatal di dubur
Semua gelisah menanti
Dan akhirnya, assalamu'alaikum, kiri dan kanan

Tanpa wirid dan doa
Aku langsung berdiri
Menuju pintu
Mengambil sendal
Pulang

Rabu, 25 November 2020

REDAMLAH AMARAHMU

Mengapa di tiap marahmu kau sertakan pembenaran? 
Apakah menopause kayu bakarnya? 
Ataukah tersinggung penyulutnya?
Sehingga pitam menjadi satu-satunya saluran pembuangan

Sedangkan setan tak perlu marah
Cukup hanya menghasut hingga timbul aluamah
Jika ia terbit amarah
Siapakah yang akan merapat pada dosa?

MENIMBA ILMU

Ruangan itu tak cukup besar
Lampunya pun tidak terlalu terang
Cukuplah hanya sekedar untuk menulis
Lantainya ditutupi sajadah
Rapat dan kumuh
Meja-meja kecil berbaris setengah lingkaran
Mengepung sebuah meja yang di atasnya terletak setumpuk buku kuning dan segelas besar teh tubruk

Seorang lelaki pertengahan
Seorang ustad
Duduk menyandarkan punggungnya di dinding
Kopiahnya dimakan waktu sarungnya luntur
Wajahnya desa menatap buku di atas meja
Suaranya pelan dan datar membacakan isi buku dan menerangkannya
Tanpa jeda terus bicara
Seperti dengung lebah
Sayup sampai
Tanpa menanti ditulis terus berucap
Malaikat yang menaungi sidang ilmu pun memiringkan kepalanya agar suara hikmah terdengar

Para santri haus ilmu
Konsentrasi mendengarkan setiap patah kata yang terlontar
Matanya memandang takjub
Tanpa dikomando semua memanjangkan leher
Menangkap setiap hikmah yang keluar
Tangan kanan sibuk menulis setiap keterangan
Tangan kiri menggaruk
Kepala yang tertutup peci
Pindah ke badan yang berkeringat
Ke selangkangan yang dihinggapi kudis
Ke sekujur tubuh yang dipenuhi pengetahuan hikmah kebijaksanaan yang gatal

Jam telah malam
Waktunya istirahat di barak
Ustad menutup buku
Meminum tehnya
Beruluk salam
Dan para santri berlarian dengan gembira

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...