Aku sedang duduk menatap televisi. Pintu terbuka menghadap beranda. Dari gelap malam berdatangan serangga lewati pintu. Menerjang lampu bohlam di langit-langit.
Tiba-tiba, kucing hitam melintas di depan pintu. Gontai. Berdiri. Diam. Menoleh dan menatap ke arahku. Matanya yang kuning bersinar tajam terkena sinar lampu. Pandangnya menghujam ke mataku.
Tubuhnya terlindung malam. Serupa siluet. Hanya titik perak cahaya lampu di ujung bulunya yang berkedip.
Aku terkejut. Sebab kilau matanya bukan seperti mata hewan. Seram. Buas. Kelam.
Sambil mengibaskan ekornya, berjalan meninggalkanku terkesima.
Malam itu, sepanjang malam, terdengar suara erangan kucing. Bercumbu dan berkelahi di belakang rumah. Kadang erangannya terdengar di kandang, kemudian pindah di pelataran.
Suaranya menghantui sunyi malam.
Mengagetkan anakku yang sedang tidur. Hingga ia menangis.
Istriku hampir semalaman tidak tidur. Menggendong anakku. Meneteki. Meninabobokkan.
Paginya, anakku badannya demam.
Merengek terus, minta digendong.
Diberi obat turun panas, tidak mempan. Demamnya tidak turun.
Akhirnya, dengan sedikit panik kukeluarkan sepeda onthelku.
Istriku, sambil menggendong anakku dengan jarig, duduk di boncengan. Kami pergi ke rumah dukun tua.
Di rumah dukun, anakku dijampi dan disembur air mantra bercampur ludah. Oleh dukun anakku dikalungi jimat terbuat dari kulit kijang muda. Diagnosanya, anakku kesambet.
Aku jadi ingat, semalam kucing hitam lewat di depan pintu dan menatapku. Itu pertanda. Itu firasat.
Setelah mengantar pulang istri dan anakku, aku bergegas ke pasar. Kubeli ikan asin dan racun tikus.
Setibanya di rumah, ikan asin kulumuri dengan racun tikus. Dan kuletakkan dimana sekiranya kucing hitam itu lewat.
Sore hari, aku ke kandang. Hendak memberi makan sapi. Ketika sedang menurunkan jerami, terlihat bangkai kucing hitam terbujur kaku di atas jerami. Mulutnya menganga. Mengeluarkan liur. Matanya terbelalak. Menuduh.
Seolah mengatakan "Apa salahku? "
Minggu, 11 Agustus 2019
Jumat, 09 Agustus 2019
1984
Tirani bersembunyi dalam barisan kata
Bersemayam dengan nyaman di lembar-lembar buku
Tertidur oleh waktu hingga lembar pertama dibuka
Kata sebagai kayu bakar kesadaran
Perlahan meremukkan otak hingga lebur
Didaur ulang dan direkatkan kembali oleh dalil
Tirani serupa jeruji yang memenjarakan pikiran
Memisahkan kata hati dengan kebebasan
Menaruhnya jauh di angan-angan yang berdebu
Seperti babi gemuk lucu yang memimpin dengan gigi taring anjing
Setiap patuh adalah sederajat budak
Pembangkangan hanya diganjar satu, rodi dan mati
Tirani adalah kata dan acap kebenaran mutlak
Yang mengatur hingga detik dan nafas
Sedangkan suara-suara dan langit hanya sisakan bisu
Bersemayam dengan nyaman di lembar-lembar buku
Tertidur oleh waktu hingga lembar pertama dibuka
Kata sebagai kayu bakar kesadaran
Perlahan meremukkan otak hingga lebur
Didaur ulang dan direkatkan kembali oleh dalil
Tirani serupa jeruji yang memenjarakan pikiran
Memisahkan kata hati dengan kebebasan
Menaruhnya jauh di angan-angan yang berdebu
Seperti babi gemuk lucu yang memimpin dengan gigi taring anjing
Setiap patuh adalah sederajat budak
Pembangkangan hanya diganjar satu, rodi dan mati
Tirani adalah kata dan acap kebenaran mutlak
Yang mengatur hingga detik dan nafas
Sedangkan suara-suara dan langit hanya sisakan bisu
Rabu, 07 Agustus 2019
WAKTU DAN SEBUAH KATA
Aku memilih waktu dari tumpukan kesempatan yang mengonggok
Mencoba sesaat, mencari luang dan sempat, diantara lipatannya
Dan mematut semangat berlama-lama di hadapan cermin hati
Menanggalkan sedikit ragu yang masih menyiksa
Api lilin menerangi kita, membakar sisa gugup di mataku
Gelas tinggal setengah sebab kering kata
Wajah kita sedekat bayangan rindu
Telapakku berkeringat dingin menenggang degup
Sedikit malu kugenggam tanganmu. Ada getar.
Dalam, kupandangi garis kecantikanmu
Dilingkupi malu oleh pilinan harap cemas
Terbata, kubisikkan satu kata di kupingmu mungil. Cinta.
Mencoba sesaat, mencari luang dan sempat, diantara lipatannya
Dan mematut semangat berlama-lama di hadapan cermin hati
Menanggalkan sedikit ragu yang masih menyiksa
Api lilin menerangi kita, membakar sisa gugup di mataku
Gelas tinggal setengah sebab kering kata
Wajah kita sedekat bayangan rindu
Telapakku berkeringat dingin menenggang degup
Sedikit malu kugenggam tanganmu. Ada getar.
Dalam, kupandangi garis kecantikanmu
Dilingkupi malu oleh pilinan harap cemas
Terbata, kubisikkan satu kata di kupingmu mungil. Cinta.
Senin, 05 Agustus 2019
DAN MUSIM BERGANTI
Tanah tempat segala musim berlabuh
Mengabarkan dukanya hamparan debu
Dibawanya angin ke segenap perdu
Hingga terdampar di pelataran rumahku
Kering kemarau ialah mantra hujan
Pohon meranggas bercabang sunyi
Langit bunting berat oleh kilat
Pecah menjadi murka
Tanah retak karena luka kerontang
Terhenyak menatap awan hujan
Tetesnya dikandung geram
Dan pelataran perlahan basah
Mengabarkan dukanya hamparan debu
Dibawanya angin ke segenap perdu
Hingga terdampar di pelataran rumahku
Kering kemarau ialah mantra hujan
Pohon meranggas bercabang sunyi
Langit bunting berat oleh kilat
Pecah menjadi murka
Tanah retak karena luka kerontang
Terhenyak menatap awan hujan
Tetesnya dikandung geram
Dan pelataran perlahan basah
Sabtu, 03 Agustus 2019
KAKI
Langkah menyeret kaki hampiri sejarah
Tenggelam dalam hingga mata hati
Serupa bajak menghujam lumpur sawah
Jejaknya benamkan lara rumput kering
Setiap pijak yang membentuk jejak
Harga yang dinisbahkan pada kaki
Segenap cinta yang coba diraih
Adalah telapak sebagai wadahnya
Tenggelam dalam hingga mata hati
Serupa bajak menghujam lumpur sawah
Jejaknya benamkan lara rumput kering
Setiap pijak yang membentuk jejak
Harga yang dinisbahkan pada kaki
Segenap cinta yang coba diraih
Adalah telapak sebagai wadahnya
BUNGA
Warna di tangkai
Pamerkan seri
Kuntumnya angin
Menebar dupa wangi
Dari pelosok lebah menelisik
Sebagai birahi pagi
Dilesapkanya kaki
Menempel serbuk sari
Pamerkan seri
Kuntumnya angin
Menebar dupa wangi
Dari pelosok lebah menelisik
Sebagai birahi pagi
Dilesapkanya kaki
Menempel serbuk sari
Kamis, 01 Agustus 2019
MENANTI KABAR
Ibu membaca langit dari balik jendela
Matanya buah badam, mencari rindu
Jemarinya gelisah merapal nama pada tasbih
Menanti kabar burung layang menyebrang
Duh, kepingan cinta yang hilang
Telah gadai tahun oleh pergimu
Sekecap ucap pun tiada sambang
Sekedar saputangan mengusap airmata
Ibu termenung sendiri di ujung ranjang
Diraihnya setiap khawatir serupa kekasih
Dipeluknya hati berselimut bordir motif duka
Segenap cemas disampirkan lewat angin
O, biji mata, separuh bunga cintaku
Bahagiaku tengah sabar menanti sua
Rentang rindu sebagai jarak dan waktu
Doa tetap rekatkan kenangan
Matanya buah badam, mencari rindu
Jemarinya gelisah merapal nama pada tasbih
Menanti kabar burung layang menyebrang
Duh, kepingan cinta yang hilang
Telah gadai tahun oleh pergimu
Sekecap ucap pun tiada sambang
Sekedar saputangan mengusap airmata
Ibu termenung sendiri di ujung ranjang
Diraihnya setiap khawatir serupa kekasih
Dipeluknya hati berselimut bordir motif duka
Segenap cemas disampirkan lewat angin
O, biji mata, separuh bunga cintaku
Bahagiaku tengah sabar menanti sua
Rentang rindu sebagai jarak dan waktu
Doa tetap rekatkan kenangan
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...