Minggu, 19 April 2020

SEPERTIGA MALAM

Ya Tuhan....
Siang tadi aku telah mengerjakan seluruh PR Mu
Eh, sebagian....
Ehem, sedikit.... deng!!!

Matahari menjadi saksi
Kukerahkan semua tenaga orang di sekitar
Kuperas setiap keringat
Kukerenyitkan kening hingga kerut tua
Agar segenap pikir muslihat dan strategi memenangkan

Memenangkan setiap rejeki yang lewat bersliweran
Mendapatkan segenap harapan dan keinginan yang berkarat di hati
Memuaskan semua nafsu yang dikandung

Maka malam ini aku bangun untuk menagih
Disaksikan bintang timur dan sajadah merah
Aku minta semua hajat dan krentegku kabul
Kekayaan, kesehatan, kekuasaan
Pemuasan semua nafsu badani

Karena aku telah memohon meminta berdoa
Bersujud berdzikir bermunajat
Aku minta padaMu Tuhan
Agar mau bekerja untukku
Menjadi mesin rejekiku
Menjadi obat kesehatanku
Menjadi alat kemenanganku
Menjadi pembawa sarana pemuas nafsu hewaniku

Jika perlu Kau kupekerjakan sebagai Asistenku
Sebagai Pengawalku
Sebagai Salesku
Sebagai Budakku
Sebagai Pesuruhku
Sebagai Pegawaiku

Demikian doa ini aku aku panjatkan di malam hening
Ketika sedekat urat nadi
Ketika mahluk sebagian besar terlelap
Segala puji bagiMu
Solawat dan salam pada Baginda Rasul
Amin.... amin.... amin....

Sabtu, 18 April 2020

SIKLUS

Titik nol kehidupan itu bernama pernikahan
Dengan saldo tabungan di buku nikah
Sebanyak doa dipanjatkan
Dan resepsi yang tumpah ruah

Tangisan telah kehilangan kodrat
Gendernya tidak dikenal
Dengan adat sebagai jubah kebesaran
Saudara menjadi saksi berjuta bintang

Kemudian tahun dirajut dengan aneka
Warnanya merah amarah dan sukacita
Suaranya gaung sedu sedan hingga rintihan
Ketika menengok ke belakang selembar kain bermotif cinta terhampar

Kamis, 16 April 2020

SAWAH SEHABIS HUJAN

Sisa hujan masih dingin
Warna lembab jua
Sriti terbang tergesa
Mengejar serangga
Diterangi senja
Mengisi tembolok
Untuk liur

Padi lekat di tanah
Daunnya telah tua
Bulirnya kotor
Mendung menggantung
Menahan beban hujan
Disangga teja
Hingga temaram tenggelam

Air di rumput
Menempel di daun turi
Basahi lanjaran kacang
Di sekujur pohon mangga
Mendekap angin
Lembab dan becek
Bercampur tanah

Selasa, 14 April 2020

TUTUPLAH PINTU GERBANG

Tutup saja gerbang itu
Sebab cinta tidak melintas
Jangan biarkan rodanya berderit
Menanti lengan menariknya dari waktu

Adalah malam yang menegaskan gerbang pada rindu
Hingga catnya kelupas dan melahirkan karat
Bahkan kabarnya pun serupa angin lalu
Hanya berhembus sepoi lewati mimpi

Tutup saja gerbang itu
Sebab orang asing bisa mengintip ke dalamnya
Dan hati yang durjana putih mata
Memanggul serakah lewati batas

Senin, 13 April 2020

MENGAPA UNGGAS

Industri mulai dari pikiran
Keseimbangan permintaan penawaran
Nyawa menjadi komoditas
Mesin penggerak pertanian

Peternak sebagai pelengkap penderita
Memesan bibit hingga penat
Ketika kandang hitungan waktu
Bibit dan harga bertolak belakang

Memelihara adalah perjuangan hidup mati
Ketika pakan adalah puncak gunung
Dan panen serupa palung laut
Keuntungan hanya senilai keringat

Minggu, 12 April 2020

PANEN

Padi tak pernah merdeka
Akarnya telah lama dikebiri
Seluruh tubuhnya adalah rekayasa

Tanah besekongkol dengan petani
Hanya membiakkan racun dikandungnya
Seranggapun dilarang mendekat

Selama hidupnya yang tragis dan pendek
Padi diguyur hujan digoda angin dan diterpa panas
Hingga akhirnya bunting

Panen adalah pemenuhan takdirnya
Jerami dibiarkan menumpuk dan layu
Gabah digiling menjadi racun bernama beras

KEMANAKAH CERITA

Sekedar membuka buku
Kertasnya tipis dan bolong
Lapuk dimakan kutu
Di tengah halaman
Seekor kecoa mampus
Tertimbun kata-kata yang belum dimamah
Perutnya besar dan pecah
Dan mengalir huruf-huruf  nista
Bercampur lendir dan nanah
Membentuk kubangan
Menenggelamkannya ke dasar
Karam menjadi tanpa arti
Tanpa akhir

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...