Jumat, 22 Mei 2020

HARI KEMENANGAN

Dari sakit penyakit dan waktu yang hilang
Setelah kaki diseret hingga debu mengabu
Semua pengorbanan menitikkan keringat darah
Tenaga telah habis terkoyak
Sedang harapan antara ada dan tiada
Tibalah langkah pada hari kemenangan
Tapal batas antara ketidakpastian

Menghadap adalah tanah pijakan sebagai padang perburuan
Dimana setiap jengkal dosa dikandung
Jalan yang harus dilalui tersamar semak
Setapak membelah sunyi dengan rindu dendam
Satu dua pohon naungi kering yang kerontang
Onak duri menjadi ornamen arah haluan
Akal tetap menyeret tubuh nestapa
Menjadi juara sejati lewati horison

Kamis, 21 Mei 2020

KEBANGKITAN

Kebangkitan adalah mencicipi kematian
Waktunya tidak dapat digeser. Maju atau mundur
Setelah keterpurukan sejarah
Dan diinjak oleh hasud dan dengki

Hujan air mata dari pelosok
Doa pelacur dengan ratus setanggi dupa
Perut yang lapar berisi kebodohan
Momen bertemunya jalan kepastian. Kebangkitan

Tiga hari terasing dalam goa
Luka telah meruyak
Kaki menginjak-injak pertiwi
Semua hajat hidup diperas hingga meneteskan kebangkitan

Selasa, 19 Mei 2020

DUEL

Tubuhnya diam ototnya meregang tegang
Hanya matanya tajam mengawasi
Seolah satu kedipan adalah harga nyawa
Sedang angin tiba-tiba berhenti

Pedang kemilau diasah cahaya
Bilahnya dingin berwarna kematian
Tangan kian erat menggenggam
Detik melambat malam pucat

Secepat kilat tangan mengayun
Kilau pedang membelah malam
Menghujam tajam membenam dendam
Darah menggenangi bumi

Sabtu, 16 Mei 2020

JALAN

Lampu jalan awasi bayang lintasi sunyi
Cahayanya sedikit buram dikoyak serangga
Tubuhnya lelah menopang malam
Seorang wanita menyalakan rokok di balik angin

Daun jatuh di pinggir dan terpana
Trotoar dampingi jalan telusuri kenangan
Sepasang kekasih berpegangan tangan
Melangkah beriring bertudung angin

Dingin mulai menghampiri ruas jalan
Terbawa kemarau hingga ke tulang rusuk
Pedagang kaki lima duduk terpekur sendiri
Menanti rejeki serupa menggantang angin

Jumat, 15 Mei 2020

MEMBACA TUHAN

Ketika benang putih dan hitam bercerai
Ketika panas mencambuk punggung ringkih
Ketika keringat meneteskan lelah di dahi
Ketika rumput takjub pada senja mentari
Ketika serangga menumbuk cahaya untuk mati
Ketika peraduan merebahkan kantuk dibalik selimut mimpi
Ketika kokok pertama merobek sunyi dan rahmat melingkupi

Selasa, 12 Mei 2020

JALAN KEMBALI KE RUMAH

Perempatan itu adalah kota
Kecil dan sepi
Jalan ke selatan menuju rindu
Dinaungi sengon dan randu
Sedikit jati merana melepas daun

Di kiri jalan sejauh debu mengaduh
Rumah kecil bercat kapur
Beratap beludru sutra dusun
Jendelanya menatap haru

Bayangan ayah
Ibu yang renta
Kenangan tahun yang hilang

Terpana di hati yang degup
Kendaraan mengikuti laju

Kampung silamku tunggu kedatanganku

Minggu, 10 Mei 2020

GERIMIS MEI

Nampaknya kemarau tidak dapat bercerai dari hujan
Seperti air mata kekasih jatuh di haribaan
Bumi menadahkan rindunya
Merangkulnya hingga terbenam

Angin bergeming menemani
Memandangi hujan yang merintih
Satu dua titik tampias
Masuk ke beranda hati

Tirai hujan sedikit tersingkap
Tanah melepas wangi tubuhnya
Matahari tetap berteduh di balik awan
Hanya mengutus lembayung sebagai tanda

KEBAKARAN

Hutan terbakar; itupun jika disebut hutan Api berkobar karena salah kemarau Dan dosa angin yang meniup hingga tetangga Tiada ada dosa puntun...