Kamis, 11 Mei 2023

KEPADA MALAM

Ku pandangi mimpi dari ketinggian
Ketika itu malam belum lagi tua
Bahkan angin masih berseliweran
Menyambar setiap kerdip bintang

Ku undang malam ke peraduan
Di balik selimut kita bercengkrama
Tiba-tiba engkau melesat pergi
Meninggalkan sedihku sendiri

Setelah itu waktu tak ingin menanti
Tak diam ia terus berdetak
Dilepasnya malam pada langit
Sebagai pigura bagi kejora

Senin, 08 Mei 2023

MENDEKAT SUBUH

Antara tahajud dan subuh terentang ruang renung
Dengan memejamkan mata, 
kita bisa memilah antara tidur ayam dan membaca pikiran
Suasananya nyaris hening

Pada pertemuan sujud dan sajadah
Kau datangi setiap permohonan
Lebih dekat ke nadi
Lebih cepat dari cahaya

Di kedalaman malam yang langitnya dipenuhi doa
Hati melafadz cinta
Bibir basah dengan rindu yang menggebu
Sebagai pertemuan kawula Gusti, manunggal dalam dzikir

Sabtu, 06 Mei 2023

LELAKIMU

Wajahnya berkarat, 
terpanggang siang 
hingga keringat

Seulas senyum tipis, 
sebaris cemooh sinis 
melengkapi kehadiran

Kulitnya suasa 
disengat panas
ditempa nasib

Jika siang ia hilang matahari
Dalam malam tangan kurusnya menjamah

Diantara lelah yang mendera
Uyon-uyon berkumandang lewat radio

Rokok sebagai pelengkap diri
Kopi dan telo rebus ubarampenya

Rabu, 03 Mei 2023

TERKENANG

Itukah lagumu yang berkumandang dari radio di ruang tengah? 
Yang selalu kau senandungkan jika sedang senang hati? 

Ah, aku jadi ingat aroma tubuhmu yang manis ketika kita bincang di ranjang besi hadiah dari nenek
Engkau duduk di tempat favoritmu, ujung amben, sambil meluruskan kaki ke lantai

Bahkan ketika rebah kita berbagi bantal dan malam sambil bercerita tentang cinta, rindu, sedih, merajuk, dan mimpi
Diamnya kita adalah pandang mata saling menatap dalam ketelanjangan ruang yang samar cahaya

Kaukah itu yang menghantui setiap kenangan dan menjaganya dari lupa? 

Selasa, 02 Mei 2023

AWAL KEMARAU YANG BASAH

Kemarau tak kemana jua
Dikelilingi mendung dipagari gerimis
Siang pun sumuk dan malam berpeluh
Karena angin tiada hembus

Keringat sebagai pertanda hidup
Tidak nafas tak jua gerak
Jika pejam mata hilang nanar
Hanya tersisa pikiran mendelu

Nampaknya hujan tak hendak beranjak
Jejaknya bertebaran dimana awan kelabu
Sedangkan kemarau hanyalah hitungan bulan
Hadir ketika panas menyengat

BAGAIMANA CINTA

Apakah pergumulan di malam yang gairah hingga keringat menetes di seluruh tubuh membasahi seprai

Pagutan liar ketika pikiran dilingkupi nafsu dan jamahan yang membuat seluruh bulu tubuh berdiri merinding

------

Adik menangis tersedan sambil merengek minta susu si mbok yang kempes
Putingnya ingin dihisapnya dan digigit dibuat permainan

Tangan kecilnya memegang leher si mbok lalu menelusur ke dada dan berhenti di buah dada

------

Tangan kurus bapak yang melungsurkan uang receh hasil dari membanting tulang mengais rejeki

Recehan yang disembunyikan di balik kutang lusuh si mbok, 
lalu si mbok menuju pawon untuk memasak air untuk membuat kopi dan merebus telo

AMBILKAN BULAN

Malam nanti akan ku petik bulan
Lalu ku sematkan di lapang dada dengan peniti mutiara
Sinarnya menerangi ruang hati tanpa silau kemilau
Hanya kerlip kunang di rerumputan

Biar ibu saja yang menggambar purnama
Dengan lembut ia melukis gerhana
Lalu kedua tangannya berubah awan
Malam jadi bertabur berjuta bintang

Kini ibu dan aku menikmati malam di beranda
Dan senyap menyelinap sebagai yang ketiga
Setelah sepeminum teh terpana menatap wajah bulan
Perlahan warna warni menjadi gelap

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...