Senin, 30 Juli 2018

SEJARAH : Sebuah soneta

Deret angka menghitung masa lalu
Catatan nama pertanda jejak debu
Tanah pijak leluhur padang puputan
Sebaris kisah pilu ode pada kematian

Rangkaian peristiwa sebab akibat
Bermuara nafsu bercabang duka
Sebuah epik gemilang penaklukan
Cucuran air mata darah kekalahan

Sejarah ditulis untuk pemenang
Akar tanda kebenaran subtil
Alat legitimasi superioritas

Pecundang adalah aib tulisan nasib
Dosa tercatat di pupuh lontar ratapan
Tonggak pengingat nestapa waris leluhur

MEMBURU SEHAT HINGGA BPJS

Malam purna becakpun gigil
Mengunyah aspal rantai derit
Nomor antri satpam kantuk
Demi sehat tak rogoh kantung

Pagi resah menanti panggil
Nomor dan orang silih berganti
Sabar menanti gilir daftar
Membunuh waktu secara bosan

Timbang baca berat dan lemak
Tensi degup ukur raksa
Catat keluh sebagaimana rasa
Bahan baca dokter periksa

Menanti panggil suster manis
Omong klobot sesama pasien
Siang telah lewati teritis
Pintu terbuka silahkan konsul

Baring tubuh lekat stetoskop
Konsultasi penyakit bila gejala
Tulis resep tiga macam
Tuntas periksa sore surup

Antri panggil jatah obat
Tubuh lelah pikir jenuh
Terima surat kontrol bulan
Malam muda iring langkahku

Sabtu, 28 Juli 2018

Seri SEJARAH - II. PAHLAWAN:Sebuah fragmen

Terbangun ketika bulan renta
membasuh wajah menuntaskan kantuk
Di atas sajadah merah kusam
diam bersujud doa hati mengetuk langit

Dalam bisu membawa lampu teplok berkedip
Tertatih menuju pawon belakang rumah
Menjerang air di atas kayu bakar
Menyeduh kopi dan teh penghangat pagi

Menanak nasi beras tumbukan panen gadu
Menggoreng tahu tempe dan telur untuk anak
Aroma nasi dan gorengan menyeruak
Membumbung dan menyatu dengan dingin

Ditata piring dan sendok dengan rapi
Di meja makan bertaplak motif batik
Diletakkan makanan dan minuman
Diiringi cinta tulus seorang ibu

Dibangunkan anak-anak
dengan lembut kasih sayang
Disentuh kaki suami
dengan takzim dan berbisik lirih

Beranjak dari dekapan selimut
Diseruput kopi manis pahit hitam
Diteguk teh manis hangat aroma melati
Mengusir dingin menggebah malas

Sambil menanti anak dan suami berwudhu
Terpekur dan diam menatap sajadah
Shof ditegakkan dan bersedekap khusyu
Berdiri sendiri menjadi penutup barisan

PIKIRAN

Tiada yang sebebas pikiran
Norma porak-poranda diterjang
Tabu dan larangan dilanggar

Tiada yang seliar pikiran
Mengumbar birahi dosa eros
Menuhankan hawa nafsu

Tiada yang seiblis pikiran
Pembunuhan dirangkai seni
Dicipta segala siksa yang pedih

Tiada yang sesetia pikiran
Nasihatnya berakal sehat
Pertimbangannya adil

Tiada yang seindah pikiran
Tidurnya adalah mimpi
Lakunya bijak teliti setiti

Tiada yang serumit pikiran
Layaknya laba-laba dipintalnya pikiran dengan bentuk geometri yang indah
Lalu direntangkan benang pikiran untuk memerangkap ide yang beterbangan

Ketika tertangkap maka ide digodok dalam wadah pengetahuan
Jawaban yang tertuang menjadi makanan bagi pikiran
Dihisapnya sari akal budi hingga tuntas masalah

Tiada yang semudah pikiran
Masalah besar dikecilkan
Masalah kecil dihilangkan

Rabu, 25 Juli 2018

E. DOUWES DEKKER : Sebuah monolog

Musuhku adalah kikirnya Droogstoppel
Rinduku bersama kematian Saidjah dan Adinda
Nuraniku tanah Bantam beribu nestapa
Benciku tanam paksa yang menghisap Lebak
Tugasku menjarah kopi dari Insulinde yang cantik
Nadiku mengalir wajah Eropa kolonial
Sikapku Residen putih wajah pribumi
Bawahanku darah bangsawan kulit kawula
Perangku pada korupsi yang berwajah dua
Beraniku mengecam baginda putra langit
Sedihku terasing dari tanah leluhur
Beradaku disebut Aku yang menderita
Penaku mengeja Max Havelaar
Karyaku meninggalkan waris dunia
Tenarku melintasi abad menjamah intelektualitas
Matiku sepi kembang makam musim dingin

Selasa, 24 Juli 2018

TENTANG RINDU

Pikiran sebagai labirin kata
Diamnya alihkan waktu
Harapnya sepanjang jarak sua
Sosokmu tersamar rindu dendam

Perhatian merunut dukamu
Kenangan tercecer menuju dirimu
Hadirnya kerap mengajuk
Tiap fragmen terhubung rindu

Menulis puja di setiap angin lalu
Bertinta cinta seloka pilu
Setiap daya menanti hadirmu
Egoku dicekam bisu

Senin, 23 Juli 2018

PENJUAL GORENGAN

Duduk di kursi dingklik kayu
Baju kumal lengan panjang dilipat
Topi berwarna pudar uban

Dihadapannya wajan dan sutil
Gorengan menumpuk telah dingin
Menanti pembeli mampir

Dipandanginya setiap yang lewat
Berharap recehan menghampiri
Pelepas lapar dahaga dikandung pagi

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...