Meja dan kursi kayu nangka
Ada sidik Ayah di sana
Taplak motif batik merah tua
Dan selembar plastik tutupi permukaannya
Kolongnya tempat sembunyi
Ketika bermain mencari
Kucing mendengkur di kursi
Menghabiskan siang yang kering
Dipermukaan ada jejak sejarah
Tetesan kecap bulir air mata
Remahan krupuk rontokan luka
Coretan iseng benang kusut
Suatu hari, aku dan adik mendaki
Malam tiba cuaca dingin
Kubawa bantal,sarung, tikar dan senter
Kami bernaung di bawah meja
Malam telah langka
Sayup isak dan bisik dari arah meja
Terdengar langkah, ayah beranjak keluar
Esok dia tak kembali
Ibu telah berbaring sunyi
Ayah hilang kabar
Aku mewarisi meja
Adik mendapat kursi
Rabu, 29 Mei 2019
Senin, 27 Mei 2019
RUANG
Lantainya bermotif geometris
Di ruang tengah yang hangat
Tempat birahi tumpah
Sunyi menjadi yang ketiga
Seperangkat sofa beludru klasik
Berjarak pandang menghadap televisi
Kita bergumul bertukar belai
Nafsu menjadi saksi
Lampu kristal di langit-langit
Sinarnya temaram kuning
Menatap pergumulan lingga yoni
Malam tetap kembali hening
Di ruang tengah yang hangat
Tempat birahi tumpah
Sunyi menjadi yang ketiga
Seperangkat sofa beludru klasik
Berjarak pandang menghadap televisi
Kita bergumul bertukar belai
Nafsu menjadi saksi
Lampu kristal di langit-langit
Sinarnya temaram kuning
Menatap pergumulan lingga yoni
Malam tetap kembali hening
KIPAS MENANGKAP ANGIN
Angin masuk
Penetrasi ventilasi
Seribu pintu menganga
Berhembus layaknya bah
Angin padati ruang
Berputar sekitar
Di sekat bilah kipas
Berderak sebab lelah
Angin berpencar
Menyebar ke penjuru
Meniup peluh
Menaruh kantuk
Angin sembunyi
Di balik kipas tua
Diam berkarat
Sebab mati
Penetrasi ventilasi
Seribu pintu menganga
Berhembus layaknya bah
Angin padati ruang
Berputar sekitar
Di sekat bilah kipas
Berderak sebab lelah
Angin berpencar
Menyebar ke penjuru
Meniup peluh
Menaruh kantuk
Angin sembunyi
Di balik kipas tua
Diam berkarat
Sebab mati
MENANGKAP QODAR
Tuhan, rumahMu kujadikan tempat perangkap
Setiap sisinya telah menanti pemburu
Ada yang melantunkan ayat-ayat alquran sebagai umpan
Ada yang diam saja sambil melafazkan namaMu,
menanti waktu yang tepat untuk menangkap
Ada yang berdiri sholat, dengan harap cemas bersua
Bahkan yang tidur, melepas dengkurnya sebagai panggilan
Kipas di langit-langit dinyalakan
Mengobok-obok udara agar ada ruang bagi kehadiran
Lampu semua dinyalakan. Terang
Sehingga rumahMu serupa suar di tengah samudera
Menunjukkan jalan agar tidak sesat
Dan pintu-pintu yang biasanya tertutup dan berdebu
Semua terbuka lebar seperti sepasang tangan ingin merangkul
Ketika hari telah dini
Segenap pemburu meluruskan niat
Mengusir kantuk dengan wudhu
Membuang malas dengan kopi
Menerjang lelah dengan tekad
Semua senjata disiapkan
Quran dibaca
Sholat didirikan
Itikaf terpekur diam
Berharap qodar masuk dalam jaring. Malam ini.
Setiap sisinya telah menanti pemburu
Ada yang melantunkan ayat-ayat alquran sebagai umpan
Ada yang diam saja sambil melafazkan namaMu,
menanti waktu yang tepat untuk menangkap
Ada yang berdiri sholat, dengan harap cemas bersua
Bahkan yang tidur, melepas dengkurnya sebagai panggilan
Kipas di langit-langit dinyalakan
Mengobok-obok udara agar ada ruang bagi kehadiran
Lampu semua dinyalakan. Terang
Sehingga rumahMu serupa suar di tengah samudera
Menunjukkan jalan agar tidak sesat
Dan pintu-pintu yang biasanya tertutup dan berdebu
Semua terbuka lebar seperti sepasang tangan ingin merangkul
Ketika hari telah dini
Segenap pemburu meluruskan niat
Mengusir kantuk dengan wudhu
Membuang malas dengan kopi
Menerjang lelah dengan tekad
Semua senjata disiapkan
Quran dibaca
Sholat didirikan
Itikaf terpekur diam
Berharap qodar masuk dalam jaring. Malam ini.
Kamis, 23 Mei 2019
SETELAH LANGIT BERFIRMAN
Sekumpulan mendatangi siang
Tanpa wajah, hanya menggenggam protes
Sembunyikan beringas di balik gamis
Di tempat inisiasi kata menjadi hukum
Penjaga adalah seragam tanpa nurani
Berbekal tugas, hanya maju bak pion
Tarian mulai dipentaskan di bahu jalan
Pakem provokasi dan langgam caci. Tarian perang
Di sisi panggung lain, hanya ada diam serupa pantomim
Mantra rasuki akal jadi amarah
Tarian pun koyak telah batu dan api
Nyawa sebagai tumbal bagi amuk
Langit mendung matahari bersedih
Panggung porak poranda
Api tetap sekam
Tanpa wajah, hanya menggenggam protes
Sembunyikan beringas di balik gamis
Di tempat inisiasi kata menjadi hukum
Penjaga adalah seragam tanpa nurani
Berbekal tugas, hanya maju bak pion
Tarian mulai dipentaskan di bahu jalan
Pakem provokasi dan langgam caci. Tarian perang
Di sisi panggung lain, hanya ada diam serupa pantomim
Mantra rasuki akal jadi amarah
Tarian pun koyak telah batu dan api
Nyawa sebagai tumbal bagi amuk
Langit mendung matahari bersedih
Panggung porak poranda
Api tetap sekam
Rabu, 22 Mei 2019
NGANGSU KAWRUH
Majelis ilmu dimana sayap malaikat menaungi
Serangga menerjang terang
Mati berserak di lantai
Berpasang mata lapar membentuk setengah lingkaran
Bayang bergerak ikuti cahaya yang menangkap angin
Segenap perhatian menghadap satu titik. Kebijaksanaan.
Di pusat semesta, segala wejang memadati udara malam
Hanya hening yang dapat menangkap saripatinya
Kuping adalah timba bagi jiwa yang dahaga
Kata telah menjadi mantra sihir
Memasung hati dengan segenap dogma
Di malam yang kian renta
Serangga menerjang terang
Mati berserak di lantai
Berpasang mata lapar membentuk setengah lingkaran
Bayang bergerak ikuti cahaya yang menangkap angin
Segenap perhatian menghadap satu titik. Kebijaksanaan.
Di pusat semesta, segala wejang memadati udara malam
Hanya hening yang dapat menangkap saripatinya
Kuping adalah timba bagi jiwa yang dahaga
Kata telah menjadi mantra sihir
Memasung hati dengan segenap dogma
Di malam yang kian renta
Selasa, 21 Mei 2019
BERMAIN DI SAWAH
Anak-anak bermain di sawah
Gelaknya berkumandang susuri pematang
Mengagetkan naga kecil yang diam
Mengintai mangsanya
Dan kupu-kupu menari
Pamerkan warna sayapnya
Di hamparan hijau padi
Kaki-kaki kecil berlari
Berlawanan hembusan angin
Mengejar layangan putus
Di tengah, sebatang beringin tua
Berdiri pongah menatap
Di teduhnya,
Uba rampe, kembang setaman dan anglo peranti menyan
Saling bahu menaiki pohon
Pekikkan kemenangan
Berkejaran mengawal layangan
Di langit kuntul lewat dalam formasi
Melintasi matahari sore
Yang membungkuk ke barat
Menjenguk senja
Gelaknya berkumandang susuri pematang
Mengagetkan naga kecil yang diam
Mengintai mangsanya
Dan kupu-kupu menari
Pamerkan warna sayapnya
Di hamparan hijau padi
Kaki-kaki kecil berlari
Berlawanan hembusan angin
Mengejar layangan putus
Di tengah, sebatang beringin tua
Berdiri pongah menatap
Di teduhnya,
Uba rampe, kembang setaman dan anglo peranti menyan
Saling bahu menaiki pohon
Pekikkan kemenangan
Berkejaran mengawal layangan
Di langit kuntul lewat dalam formasi
Melintasi matahari sore
Yang membungkuk ke barat
Menjenguk senja
Langganan:
Postingan (Atom)
LELAKI YANG MENGGADANG MALAM
Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...