Rabu, 29 Mei 2019

MEJA KURSI

Meja dan kursi kayu nangka
Ada sidik Ayah di sana
Taplak motif batik merah tua
Dan selembar plastik tutupi permukaannya

Kolongnya tempat sembunyi
Ketika bermain mencari
Kucing mendengkur di kursi
Menghabiskan siang yang kering

Dipermukaan ada jejak sejarah
Tetesan kecap bulir air mata
Remahan krupuk rontokan luka
Coretan iseng benang kusut

Suatu hari, aku dan adik mendaki
Malam tiba cuaca dingin
Kubawa bantal,sarung, tikar dan senter
Kami bernaung di bawah meja

Malam telah langka
Sayup isak dan bisik dari arah meja
Terdengar langkah, ayah beranjak keluar
Esok dia tak kembali

Ibu telah berbaring sunyi
Ayah hilang kabar
Aku mewarisi meja
Adik mendapat kursi

Senin, 27 Mei 2019

RUANG

Lantainya bermotif geometris
Di ruang tengah yang hangat
Tempat birahi tumpah
Sunyi menjadi yang ketiga

Seperangkat sofa beludru klasik
Berjarak pandang menghadap televisi
Kita bergumul bertukar belai
Nafsu menjadi saksi

Lampu kristal di langit-langit
Sinarnya temaram kuning
Menatap pergumulan lingga yoni
Malam tetap kembali hening

KIPAS MENANGKAP ANGIN

                         Angin masuk
                     Penetrasi ventilasi
                 Seribu pintu menganga
               Berhembus layaknya bah

                    Angin padati ruang
                      Berputar sekitar
                    Di sekat bilah kipas
                   Berderak sebab lelah

                      Angin berpencar
                  Menyebar ke penjuru
                        Meniup peluh
                      Menaruh kantuk

                       Angin sembunyi
                      Di balik kipas tua
                         Diam berkarat
                           Sebab mati

MENANGKAP QODAR

Tuhan, rumahMu kujadikan tempat perangkap
Setiap sisinya telah menanti pemburu
Ada yang melantunkan ayat-ayat alquran sebagai umpan
Ada yang diam saja sambil melafazkan namaMu,
menanti waktu yang tepat untuk menangkap
Ada yang berdiri sholat, dengan harap cemas bersua
Bahkan yang tidur, melepas dengkurnya sebagai panggilan
Kipas di langit-langit dinyalakan
Mengobok-obok udara agar ada ruang bagi kehadiran
Lampu semua dinyalakan. Terang
Sehingga rumahMu serupa suar di tengah samudera
Menunjukkan jalan agar tidak sesat
Dan pintu-pintu yang biasanya tertutup dan berdebu
Semua terbuka lebar seperti sepasang tangan ingin merangkul
Ketika hari telah dini
Segenap pemburu meluruskan niat
Mengusir kantuk dengan wudhu
Membuang malas dengan kopi
Menerjang lelah dengan tekad
Semua senjata disiapkan
Quran dibaca
Sholat didirikan
Itikaf terpekur diam
Berharap qodar masuk dalam jaring. Malam ini.

Kamis, 23 Mei 2019

SETELAH LANGIT BERFIRMAN

Sekumpulan mendatangi siang
Tanpa wajah, hanya menggenggam protes
Sembunyikan beringas di balik gamis

Di tempat inisiasi kata menjadi hukum
Penjaga adalah seragam tanpa nurani
Berbekal tugas, hanya maju bak pion

Tarian mulai dipentaskan di bahu jalan
Pakem provokasi dan langgam caci. Tarian perang
Di sisi panggung lain, hanya ada diam serupa pantomim

Mantra rasuki akal jadi amarah
Tarian pun koyak telah batu dan api
Nyawa sebagai tumbal bagi amuk

Langit mendung matahari bersedih
Panggung porak poranda
Api tetap sekam

Rabu, 22 Mei 2019

NGANGSU KAWRUH

Majelis ilmu dimana sayap malaikat menaungi
Serangga menerjang terang
Mati berserak di lantai

Berpasang mata lapar membentuk setengah lingkaran
Bayang bergerak ikuti cahaya yang menangkap angin
Segenap perhatian menghadap satu titik. Kebijaksanaan.

Di pusat semesta, segala wejang memadati udara malam
Hanya hening yang dapat menangkap saripatinya
Kuping adalah timba bagi jiwa yang dahaga

Kata telah menjadi mantra sihir
Memasung hati dengan segenap dogma
Di malam yang kian renta

Selasa, 21 Mei 2019

BERMAIN DI SAWAH

Anak-anak bermain di sawah
Gelaknya berkumandang susuri pematang
Mengagetkan naga kecil yang diam
Mengintai mangsanya
Dan kupu-kupu menari
Pamerkan warna sayapnya
Di hamparan hijau padi

Kaki-kaki kecil berlari
Berlawanan hembusan angin
Mengejar layangan putus
Di tengah, sebatang beringin tua
Berdiri pongah menatap
Di teduhnya,
Uba rampe, kembang setaman dan anglo peranti menyan

Saling bahu menaiki pohon
Pekikkan kemenangan
Berkejaran mengawal layangan
Di langit kuntul lewat dalam formasi
Melintasi matahari sore
Yang membungkuk ke barat
Menjenguk senja

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...