Kamis, 29 Agustus 2019

RUANG

Pedalaman batin adalah belantara kata
Dibatasi sekat rapuh prasangka
Serupa ruang pengakuan dosa
Dan nurani sebagai Romo
Mengenyam setiap pengakuan senyap

Satu ketika kesadaran terbangun gelisah dari tapa tidurnya
Mulutnya mengulum segala caci dengki
Perutnya dipenuhi dogma dan taklid buta
Hingga setelah kenyang, kembali bergelung di pojok ruang pikiran. Lelap.

Terkadang kata menghancurkan sekat dan memporandakan ruang waktu
Lalu dengan khusyuk nyaris serupa pengekor buta, mereka bunuh diri. Masal.
Melepas segenap makna dari selubungnya
Dan terbang menembus angan ke tujuh

Ketika ruang telah lengang, kering, serupa padang
Tumbuh dari lantainya rumpun semak duri 
Menutupi segenap angan dan menghalangi cahaya menghangatkan hati
Sementara jagad cilik perlahan kembali apatis

Kamis, 22 Agustus 2019

LEWAT TENGAH MALAM

Suara di dalam benak
Seperti si bijak mendikte
Meremuk logika jadi remah
Dicampakkan sebagai sampah

Pikiran seumpama jalan sempit berliku
Menatap di balik jendela buram
Kebenaran serupa benang kusut
Kadang naif sering bodoh

Kata serupa jarum. Tajam.
Ditusukkan pada kesadaran
Mengikatnya dengan tali ijuk
Dan duka terpendam diam

Ketika otak lumpuh
Terpasak luka mengaduh
Gaduh telah senyap mengendap
Kenyataan serupa rumput, merana.

BERBURU PIKIRAN

Terbetik dalam pikiran mengalir darah merah
Tumpah jauh hingga menggenangi otak
Segenap warna tenggelam dalam pusaran emosi
Lalu berpendar meledak menyebar ke setiap kesadaran

Sudut yang menyiku hanya lengkung
Tiada ujung hanya awal dari akhir yang terus bersambung
Mata yang mencatat semua sensasi birahi
Mengirim duka psikedelik dan luka eklektik

Kemudian bayangan terbang ke pulau di langit pastel
Menemui kucing hitam yang berdiri sendiri di bukit kurcaci
Serentak akal menangkap titik-titik bintang yang terdampar
Dan meletakkannya dalam liang hitam bumi

Akhirnya tubuh hanya tersungkur dan terkungkung lesu
Terdiam dan terikat oleh tali khayal yang mencekik
Pencerahan telah dihempas hingga hilang harga
Mimpi seolah jalan cerita metalik yang nyata

Minggu, 18 Agustus 2019

MAUT MELANGKAH DI BELAKANGMU

Kematian serupa kakang kawah
Pecah ketuban menjadi garba
Sedulur adik ari-ari ditemani cublik
Pulang memanjat nirwana

Ketika malaikat datangi mandatnya
Mati tak jua tersungkur ke depan
Apa tah terus terjerembab
Hanya irisan ruang waktu dan takdir, titiknya

Kamis, 15 Agustus 2019

JALAN MENIKUNG

Usia beranjak menunggangi waktu
Menanggalkan jejak di angin lalu
Sekering semak belukar. Layu.
Si gila bersemayam di pikiran yang menipu

Sampai di titik semua pertanyaan adalah retorika
Dan jawabnya adalah pertanyaan belaka
Kita bisa menimbang kemana nasib berlaku
Dengan membaca tanda zaman dari buku

Ketika telah memanjat hingga ujung senja
Tangan bebas memetik bulan kertas
Dan dulu kita pernah tahu alasan untuk percaya
Hingga musim datang dan pergi di kamar putih

Tangga menuju surga telah dibentangkan
Namun kau tetap memilih hamparan emas
Sebab taman telah dihujani air dari mata yang lelah
Sehingga jalan menikung menuju tujuh lautan

Aku tidak bisa mengeluarkan teriakan di benak
Karena suaranya bergema di keheningan
Agar tak ada sesat sebab mereka berubah
Ikutilah bintang. Kau butuh seorang teman.

Selasa, 13 Agustus 2019

KAU MEMBERI JAWAB PADAKU

Dik, kita memang disandingkan oleh perjodohan
Usia terpaut matahari dan prenjak bernyanyi
Hidupku sebagai detik membosankan, terbiasa serupa kewajiban
Sedangkan kau kidang kencana yang berlari di padang perburuan

Aku bersikukuh menukar nasib seumpama penangkar bahagia
Umur kukebiri sehingga samar kerut mata
Kau mencoba jadi kijang jinak yang melangkah anggun
Berusaha mengejar usia, acap dengan ucap dan sikap

Dik, maukah kau menjadi sigaran nyowo siang kerontang
Walau dijodohkan, aku mengharap kepastian tulus dan relung hati
Kau tetap sepi dan menunduk, ada sekilas senyum di bibir tipis dan pipimu semburat jambu
Dari sudut mata ada lirik yang binar seolah mengucap: Cinta.


Senin, 12 Agustus 2019

SURAT

Sepotong kabar menggenggam rindu
Bersembunyi di rumpun kata
Dilempit dalam lipatan amplop
Dan perangko seri pahlawan

Tak ada cerita hanya jarak
Membentang antara hati dan sepi
Tulisan tangan yang rapi
Dan tetesan air mata duka

Perlahan surat kusimpan rapih dalam ingatan
Kertas kuremas hingga pedih perih
Kucium, ada samar bau tubuhmu
Aku tercenung dan melarung setiap doa yang kuingat

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...