Laparku rebah di lantai
Sekedar remahan kue tersedak
Lagu sayup menyusup
Meremas usus dalam perut
Jam tersenyum padaku. Ewa
Aku melirik sisa air di gelas
Liur menetes
Di tembok lukisan panen
Laparku mendesak leher
Mata berkunang
Pikirku terbayang
Sepiring nasi dan lauk
Selasa, 12 November 2019
Senin, 11 November 2019
NESTAPA
Waktu bergerak mundur
Ketika pedih mengoyak kenangan
Fragmen nyeri timbul tenggelam
Serupa ombak musim
Kita saling menikamkan kata
Saling menyakiti luka
Mata berpijar oleh emosi
Degup menambah nanar
Duka mengalir di pembuluh sesal
Bercampur air mata
Perlahan naik menggenangi hati
Bermuara di pantai nestapa
Ketika pedih mengoyak kenangan
Fragmen nyeri timbul tenggelam
Serupa ombak musim
Kita saling menikamkan kata
Saling menyakiti luka
Mata berpijar oleh emosi
Degup menambah nanar
Duka mengalir di pembuluh sesal
Bercampur air mata
Perlahan naik menggenangi hati
Bermuara di pantai nestapa
Jumat, 08 November 2019
RUANG KOSONG
Sekat menggaris ruang
Memisahkan paling sudut
Jendela mengapit dahan jambu
Buahnya bergelantungan
Kuning warnanya oleh tirai
Menatap luasan dari balik kaca
Dari celahnya sinar memancar
Membentuk pola di tembok
Debu menari terpapar cahaya
Naik turun di sekujur lantai
Ada gambar anak berjari tiga
Berwarna arang batok
Berambut kepang dua
Mengejar retakan sinar
Yang dihela matahari
Langit-langit dikepung sawang
Ada bekas tetes hujan di pojoknya
Seutas kabel menggantung lampu
Mencengkram sudut temu
Di sisi tembok yang berpunggung kelam
Pintu menyandar di gawangan
Tubuhnya penuh luka kelupas
Ada gambar tempel seronok
Dan tulisan pudar. "Sedang keluar".
Memisahkan paling sudut
Jendela mengapit dahan jambu
Buahnya bergelantungan
Kuning warnanya oleh tirai
Menatap luasan dari balik kaca
Dari celahnya sinar memancar
Membentuk pola di tembok
Debu menari terpapar cahaya
Naik turun di sekujur lantai
Ada gambar anak berjari tiga
Berwarna arang batok
Berambut kepang dua
Mengejar retakan sinar
Yang dihela matahari
Langit-langit dikepung sawang
Ada bekas tetes hujan di pojoknya
Seutas kabel menggantung lampu
Mencengkram sudut temu
Di sisi tembok yang berpunggung kelam
Pintu menyandar di gawangan
Tubuhnya penuh luka kelupas
Ada gambar tempel seronok
Dan tulisan pudar. "Sedang keluar".
Rabu, 06 November 2019
DAN BURUNG BERNYANYI
Sangkar sebagai pusat semesta
Keluasan terpampang dari balik jerujinya
Segalanya berlimpah kecuali tanah merdeka
Sangkar dikerek mendekati ujung matahari
Diayun angin dikawal awan pada seutas tali
Langit biru menjadi tudungnya
Sangkar mengangkangi dunia
Burung bertengger anggun pamer bulunya
Berkicau riuh memanggil kebebasan
Keluasan terpampang dari balik jerujinya
Segalanya berlimpah kecuali tanah merdeka
Sangkar dikerek mendekati ujung matahari
Diayun angin dikawal awan pada seutas tali
Langit biru menjadi tudungnya
Sangkar mengangkangi dunia
Burung bertengger anggun pamer bulunya
Berkicau riuh memanggil kebebasan
DENGAN SEDIKIT BANTUAN, TEMAN
Seumpama irama utuh sebuah lagu
Pertemanan mencari not terakhir
Penutup tahun-tahun emas kebersamaan
Kadang bunyi berulang menegaskan
Nada tiada tujuan hanya denting
Seperti kita, bukan kau dan aku
Diam dalam satu birama kosong
Terasa panjang dan lengang
Sebelum sua rindu disatu dirigen
Ketika irama meniti menuju klimaks
Suara berkejaran manunggal ing laras
Sahabat menjadi penggenapan orkestrasi
Pertemanan mencari not terakhir
Penutup tahun-tahun emas kebersamaan
Kadang bunyi berulang menegaskan
Nada tiada tujuan hanya denting
Seperti kita, bukan kau dan aku
Diam dalam satu birama kosong
Terasa panjang dan lengang
Sebelum sua rindu disatu dirigen
Ketika irama meniti menuju klimaks
Suara berkejaran manunggal ing laras
Sahabat menjadi penggenapan orkestrasi
Minggu, 03 November 2019
KETIKA MENCAPAI 64
Bayangan lebih sepenggalah
Teriknya telah memanjang
Rambut kini kelabu perak
Ingatan di kerut sudut mata
Entah bila batas air
Tanduran tak selalu panen
Adakalanya mejadi tetes keringat
Sering juga doa harap
Semua yang terbilangpun hilang
Serupa rumput musim kemarau
Kenangan silih berganti
Diterjang gelombang dan waktu
Jika telah tiba di titik singgah
Sejenak mengintip ke belakang
Di sisa langkah senja
Kepala tertunduk haru
Teriknya telah memanjang
Rambut kini kelabu perak
Ingatan di kerut sudut mata
Entah bila batas air
Tanduran tak selalu panen
Adakalanya mejadi tetes keringat
Sering juga doa harap
Semua yang terbilangpun hilang
Serupa rumput musim kemarau
Kenangan silih berganti
Diterjang gelombang dan waktu
Jika telah tiba di titik singgah
Sejenak mengintip ke belakang
Di sisa langkah senja
Kepala tertunduk haru
Jumat, 01 November 2019
DIA MASUK LEWAT JENDELA KAMAR MANDI
Dia mengendap perlahan
Menginjak rumput yang terkulai
Kakinya berjingkat lekat
Khawatir bangunkan malam
Di dalam, televisi siarkan berita
Sayup suaranya menjaga rumah
Cahayanya bercampur lampu
Ruang dan bayang serasa bergerak
Hati-hati daun jendela dipentang
Kacanya buram sedikit retak
Bau lembab merebak
Menerjang hidung dan terbang
Tangan menahan beban tubuh
Kaki dinaikkan satu per satu
Tubuh mengikuti
Telapak kaki menyentuh lantai. Dingin
Menginjak rumput yang terkulai
Kakinya berjingkat lekat
Khawatir bangunkan malam
Di dalam, televisi siarkan berita
Sayup suaranya menjaga rumah
Cahayanya bercampur lampu
Ruang dan bayang serasa bergerak
Hati-hati daun jendela dipentang
Kacanya buram sedikit retak
Bau lembab merebak
Menerjang hidung dan terbang
Tangan menahan beban tubuh
Kaki dinaikkan satu per satu
Tubuh mengikuti
Telapak kaki menyentuh lantai. Dingin
Langganan:
Postingan (Atom)
LELAKI YANG MENGGADANG MALAM
Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...