Sekian purnama genap hitung
Catatannya telah desir angin
Terbaca pada daun jatuh
Rambut warna abu ikal
Garis mata sejumlah duka
Langkah tertatih bertelekan luka
Pada temu rindu ribuan senyap
Semua cerita bersatu dalam peluk
Tangis menjadi yang ke tiga
Memandang tahun yang jarak
Setelah segala rindu lebur
Cinta ternyata tetap semanak
Kamis, 31 Januari 2019
JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUKU
Semangat bawa kita ke ranah liar. Eksotis
Seperti reklame paksakan pandang pada kemasan dusta
Nafsu adalah nama tengahnya jika tengah tualang
Dengan segala aksesoris indera yang dikehendaki tubuh
Bisikan tak jemu mencuci otak
Membombardir dengan dogma kenikmatan
Jika jejaknya dilacak hingga purwa
Perangkap menjadi tanda di tiap langkah
Tanpa menanti detik, langsung menikam, menerkam
Melahap setiap akal sehat yang berkecambah
Menutup sudut mata dengan secarik ragu
Membiarkan segala yang fana beraroma baka
Hingga ruang dan waktu beralih posisi
Segala kesiaan adalah buah getirnya
Tak bercampur keduanya kecuali beranak duka
Ketika usia telah di ujung tanduk
Jalan telah mengerucut ke satu arah
Hamparan setelahnya adalah nihil
Karena itu, jangan sia-siakan waktuku, hai tubuh renta
Seperti reklame paksakan pandang pada kemasan dusta
Nafsu adalah nama tengahnya jika tengah tualang
Dengan segala aksesoris indera yang dikehendaki tubuh
Bisikan tak jemu mencuci otak
Membombardir dengan dogma kenikmatan
Jika jejaknya dilacak hingga purwa
Perangkap menjadi tanda di tiap langkah
Tanpa menanti detik, langsung menikam, menerkam
Melahap setiap akal sehat yang berkecambah
Menutup sudut mata dengan secarik ragu
Membiarkan segala yang fana beraroma baka
Hingga ruang dan waktu beralih posisi
Segala kesiaan adalah buah getirnya
Tak bercampur keduanya kecuali beranak duka
Ketika usia telah di ujung tanduk
Jalan telah mengerucut ke satu arah
Hamparan setelahnya adalah nihil
Karena itu, jangan sia-siakan waktuku, hai tubuh renta
SUNGAI
Air mengalir hingga langit
Dihela angin panjat puncak
Diayak selendang bidadari
Turun bawa butiran pelangi
Menebar lembab hijau coklat humus
Menembus segenap pori ibu
Tetesi dahaga serabut
Tumbuhkan kecambah harap
Mencari ceruk di sela batuan
Berkumpul mendesak sumber
Gemericik mengalir turuni lembah
Bawa pesan hidup dan bencana di tiap riaknya
Ketika sumber menyembur terhanyut jauh
Riak bersalin gelora keruh
Gelontorkan segala degil kumuh
Muara menganga muntahkan isi ke laut
Dihela angin panjat puncak
Diayak selendang bidadari
Turun bawa butiran pelangi
Menebar lembab hijau coklat humus
Menembus segenap pori ibu
Tetesi dahaga serabut
Tumbuhkan kecambah harap
Mencari ceruk di sela batuan
Berkumpul mendesak sumber
Gemericik mengalir turuni lembah
Bawa pesan hidup dan bencana di tiap riaknya
Ketika sumber menyembur terhanyut jauh
Riak bersalin gelora keruh
Gelontorkan segala degil kumuh
Muara menganga muntahkan isi ke laut
LAPAR MATA
Dahaga belanja adalah deret produk yang tersenyum pada rupiah
Menarik isi dompet seperti magnet meraup pasir
Sedangkan nama-namanya asing bagi lidah
Tetapi akrab ketika dikenakan walaupun membawa lecet
Setiap produk mengepung mata dengan bujuk diskon
Langkah tetap dibuntuti lelah sebab tiada tempat jeda
Ketika lepas dari labirin konsumerisme
Tangan menenteng lapar mata dan sisakan recehan untuk pulang
Menarik isi dompet seperti magnet meraup pasir
Sedangkan nama-namanya asing bagi lidah
Tetapi akrab ketika dikenakan walaupun membawa lecet
Setiap produk mengepung mata dengan bujuk diskon
Langkah tetap dibuntuti lelah sebab tiada tempat jeda
Ketika lepas dari labirin konsumerisme
Tangan menenteng lapar mata dan sisakan recehan untuk pulang
SEPERCIK AIR
Air memercik tinggalkan derai hujan
Dengan gigil menyentuh lantai beranda
Sedang rumput di laman menoleh pada teduh teritis
Sebab tubuhnya kuyup menahan tetes
Air memercik serupa embun musim bediding
Titiknya menempel dan menutupi kaca jendela
Pandangpun seperti tersaput kabut
Di luar, bayang pohon melambai tertiup angin
Air memercik pada dingin yang sunyi
Ketika bunyi rintik telah berhenti
Dan malam berhembus lewat para
Aku duduk sendiri sambil nikmati kopi
Dengan gigil menyentuh lantai beranda
Sedang rumput di laman menoleh pada teduh teritis
Sebab tubuhnya kuyup menahan tetes
Air memercik serupa embun musim bediding
Titiknya menempel dan menutupi kaca jendela
Pandangpun seperti tersaput kabut
Di luar, bayang pohon melambai tertiup angin
Air memercik pada dingin yang sunyi
Ketika bunyi rintik telah berhenti
Dan malam berhembus lewat para
Aku duduk sendiri sambil nikmati kopi
DI PUNGGUNG KUDA
Padang luas debu mengepul
Bau rumput kering menusuk
Ada getir samar di tanah pijak
Kumbang terbang berputar serupa ingatan
Diantara bunga savana
Mengikuti angin kembara
Hinggap, melepas lelah
Memeluk kembang mencium putik
Kuda melangkah gagah
Kepala tengadah pongah
Lintasi padang tanpa kekang
Nafasnya memburu riang
Surai berkibar
Garis panjang membelah kering
Lurus menuju horizon
Serupa ingatan tanah leluhur
Semula hanya deru debu
hingga hujan pertama membasuh
Memenuhi tetek induk dengan susu
Dan bleduk berloncatan liar
Burgulung di hijau semak nestapa
Kuda melangkah gagah
Kepala tengadah pongah
Lintasi padang tanpa kekang
Nafasnya memburu riang
Surai berkibar
Pagi merekah pelangi sisa hujan malam
Ujungnya terikat di pohon Cendana dan pucuk Siwalan
Rombongan ternak berlari menuju padang
Kupu-kupu beterbangan karena kaget
Suara lenguhan ramai bercampur derap
Wangi tanah basah tercium hingga ufuk
Pedet berlari berusaha mengejar
Matahari tersenyum ramah, tampaklah silaunya
Kuda melangkah gagah
Kepala tengadah pongah
Lintasi padang tanpa kekang
Nafasnya memburu riang
Surai berkibar
Bau rumput kering menusuk
Ada getir samar di tanah pijak
Kumbang terbang berputar serupa ingatan
Diantara bunga savana
Mengikuti angin kembara
Hinggap, melepas lelah
Memeluk kembang mencium putik
Kuda melangkah gagah
Kepala tengadah pongah
Lintasi padang tanpa kekang
Nafasnya memburu riang
Surai berkibar
Garis panjang membelah kering
Lurus menuju horizon
Serupa ingatan tanah leluhur
Semula hanya deru debu
hingga hujan pertama membasuh
Memenuhi tetek induk dengan susu
Dan bleduk berloncatan liar
Burgulung di hijau semak nestapa
Kuda melangkah gagah
Kepala tengadah pongah
Lintasi padang tanpa kekang
Nafasnya memburu riang
Surai berkibar
Pagi merekah pelangi sisa hujan malam
Ujungnya terikat di pohon Cendana dan pucuk Siwalan
Rombongan ternak berlari menuju padang
Kupu-kupu beterbangan karena kaget
Suara lenguhan ramai bercampur derap
Wangi tanah basah tercium hingga ufuk
Pedet berlari berusaha mengejar
Matahari tersenyum ramah, tampaklah silaunya
Kuda melangkah gagah
Kepala tengadah pongah
Lintasi padang tanpa kekang
Nafasnya memburu riang
Surai berkibar
CEMBURU
Tatap mata amarah sembilu
Kilatnya iris duka ragu
Bilahnya menikam bisu
Mulanya sekam bunga api
Ditimpali bisik digenapi dengki
Bahasa tubuh mengandung caci
Mata terpejam hati gundah
Sakit adalah kayu bakar luka
Tiap ucap meruyak duga
Api cemburu membakar
Datangi kecewa tanpa maaf
Tangan menampar mata basah
Kilatnya iris duka ragu
Bilahnya menikam bisu
Mulanya sekam bunga api
Ditimpali bisik digenapi dengki
Bahasa tubuh mengandung caci
Mata terpejam hati gundah
Sakit adalah kayu bakar luka
Tiap ucap meruyak duga
Api cemburu membakar
Datangi kecewa tanpa maaf
Tangan menampar mata basah
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...